Tragedi Arsitektur Menjual Mimpi


Tragedi Arsitektur Menjual Mimpi 

KALAU mengutip teori dari arsitek dan budayawan almarhum YB Mangunwijaya, bahwa arsitektur adalah cermin sikap hidup, bagaimana wajah arsitektur di kompleks-kompleks perumahan yang dipasarkan oleh para pengembang bermodal besar saat ini?

"Para arsitek postmodernis mengatakan itu arsitektur Christmas Cake," ujar Sonny Sutanto M Arch dari Arsitek Muda Indonesia. Bentuk arsitektur ini merupakan potongan, bahkan serpihan, yang tidak punya makna apa-apa. Hanya, Fun, sweet and nice.

Yori Antar, juga dari AMI, menyebutkannya sebagai arsitektur balada, arsitektur seolah-olah, arsitektur tanpa akar. "Bukannya masyarakat kita suka dengan semua yang serba seolah-olah, yang semu, artifisial, dan enggan melihat kenyataan?" ujar Yori.

Arsitek yang mendalami Ilmu Filsafat pada Sekolah Tinggi Driyarkara, Hasan Halim, mengatakan, gaya arsitektur yang belakangan dibangun oleh banyak perusahaan real estat adalah gaya arsitektur Disneyland. Kawasan itu lantas menjadi theme park.

Masyarakat konsumen yang tinggal di dalam theme park seolah-olah hidup di Paris, Wina, Amsterdam dan kota-kota lain di dunia; mereka tinggal di dalam bangunan Romawi seolah-olah mendiami istana kaisar.

Mengutip Baudrillard dalam Hystericising the Millennium (1992) Halim mengatakan, Walt Disney merintis suatu dunia "konyol" yang menampilkan bentuk-bentuk lama dan sekarang, mozaik dari semua kebudayaan... semua dibekukan dalam bentuk keceriaan yang definitif; dibekukan seperti Walt Disney sendiri dibekukan dalam cairan nitrogen: dunia ajaib, gothic, Hollywood-semua masa lalu dan masa depan dalam simulasi.

Masyarakat konsumen kemudian hidup dalam dunia virtual yang disebut hyper-real. Mereka tinggal di lingkungan hiper-arsitektur; suatu campuran masa lalu dan masa kini, yang mengingkari tempat dan sejarah. Seperti astronot tersesat di angkasa luar, hiper-arsitektur tersesat dalam sejarah.

Ketua Masyarakat Lingkungan Binaan, Marco Kusumawijaya, menambahkan, itu bukan hanya sekadar arsitektur atau gaya Disneyland. Mungkin modus operandi Disneyland lebih tepat karena semuanya mengadaptasi sindrom yang sama: pihak penjual harus selalu menemukan sesuatu yang baru agar dapat terus bertahan dari waktu ke waktu.

Mereka memasang iklan dengan rayuan akan kesenangan dan kebahagiaan yang dalam bahasa pemasaran disebut gimmick. "Karena masyarakat konsumeris merasa wajib untuk menjadi bahagia, senang, menarik, bersemangat dinamis dan bergairah," sambung Halim, kembali mengutip Baudrillard.

"Suatu dreamland seperti Disneyland dan Taman Impian Jaya Ancol, misalnya, pun demikian, karena pengunjung biasanya datang untuk melihat atraksi baru tertentu sampai atraksi berikutnya lahir," lanjut Marco.

Mungkin itu sebabnya Yori melihat banyak pemilik kembali menjual rumahnya setelah menempati selama beberapa saat, karena merasa rumah tersebut tidak lagi memenuhi seleranya lagi.

Seperti dipaparkan tenaga pemasaran di sebuah kompleks peristirahatan di Puncak yang menggunakan tema-tema kota dunia itu, "Banyak yang menjual vilanya di kompleks A dan membeli di kompleks kami."

***

GEJALA bahwa rumah bukan lagi merupakan suatu kebutuhan barang sosial yang profan, menurut Marco, terjadi pada paruh kedua tahun 1990-an. "Rumah lebih menjadi komoditas untuk investasi atau aksesori secara berlebihan," ujarnya.

Gejala ini ditangkap oleh pengusaha pengembang perumahan bermodal besar, yang selalu menjadi "dewa" dalam mengatur budaya dan psikologi berarsitektur masyarakat Indonesia.

Seperti dijelaskan Ridwan Kamil, anggota Arsitek Muda Indonesia yang tengah melanjutkan studinya di University California of Berkeley, AS, istilah form follows finance bisa dijadikan ilustrasi sederhana bagaimana arsitektur dan permukiman di Indonesia dirancang oleh kekuatan kapital ketimbang lahir dari desain yang kritis.

Masalah mendidik klien yang menjadi tugas berat para arsitek pada kenyataannya, menurut pengamatan Ridwan Kamil, lebih banyak diatur ketimbang mengatur pola pikir pengembang atau pembangun perumahan. Arsitek akhirnya menjadi orang yang tidak merdeka.

Ini membuat tidak adanya perlawanan ideologis maupun kosmologis terhadap apa yang dipaksakan pengembang-yang acapkali menyewa konsultan dari luar negeri-sehingga dengan mudah terjadi marginalisasi tempat dan pencaplokan tempat ke dalam kapitalisme.

"Yang relevan dengan kasus kita adalah pencaplokan tempat ke dalam kapitalisme," kata Marco. "Perusahaan-perusahaan trans-nasional juga mempunyai kepentingan untuk membuat dirinya familiar atau domestik demi kepentingan pemsaran, tetapi tidak harus bertanggung jawab terhadap masyarakat."

Mereka, lanjut Marco, juga berkepentingan mempromosikan "tempat" sebagai ideologi (Disneyland, Kota Wisata, Kota Bunga, Legenda Wisata dan lain-lain), sementara masyarakat yang tidak kritis segera membahasakan dirinya sedemikian rupa supaya dianggap sejalan dengan kapital.

Kalau kemudian yang muncul adalah arsitektur-arsitektur tanpa akar, barangkali di satu sudut tercakup konsep fetishism (pemujaan) seperti dikemukakan Marco. Membeli tidak ada hubungannya dengan nilai guna, yang oleh Marx disebut sebagai fetisisme komoditas, karena obyek dimuati makna-makna yang memberi status kepada individu yang memiliki atau memakainya.

"Garis atau bentuk rumah Venesia, atau London atau Victoria atau apa saja, di tempat asalnya dimengerti mendalam karena ada sejarah dan maknanya," lanjut Marco, Ketika dipindahan ke sini tentu kehilangan maknanya, menjadi fetish saja."

Dalam pandangan Andra Matin juga dari Arsitek Muda Indonesia (AMI), daripada memilih arsitektur dengan tema-tema tempat seperti Monaco, Kyoto, Praha, Paris, dan seterusnya, mengapa tidak memakai nama arsitek saja sebagai "label" seperti yang dilakukan di Nexus Houses di Fukuoka, Jepang, dan di Bumi Kahuripan, Parung, Jawa Barat, sebelum krismon menghantam Indonesia. Dengan cara ini, para arsitek sebagai perancang bangunan bisa dituntut tanggung jawabnya.

***

LALU apakah gaya arsitektur luar tidak boleh diadaptasi?

"Coba lihat bagaimana para arsitek Belanda mengadaptasi arsitektur tradisional kita ke dalam arsitektur-arsitektur bangunan yang dibuat Belanda di Indonesia," ujar Ir Hilman Asnar dari PT Hilman dan Mitra. Hal yang sama juga dikemukakan Yori Antar dan Marco Kusumawijaya.

"Tiap arsitek boleh saja membawa kekhasannya masing-masing, tetapi disesuaikan dengan lingkungan di mana desain itu dibuat. Lepas dari suka atau tidak suka, tetapi Paul Rudolph dari Amerika sangat memperhatikan keadaan lingkungan yang beriklim tropis ketika mendesain gedung Wisma Dharmala," kata Andra.

"Rancangan arsitektur dari luar sekarang hanya diambil tempelannya, sistem estetikanya tidak dikembangkan dengan baik," sambung Andy Siswanto MArch. "Dengan begitu, kita tidak akan menemui seperti arsitektur Belanda yang mengadaptasi nilai-nilai arsitektur tradisional kita saat ini, karena arsitektur tradisional tidak banyak dieksplorasi lagi."

Van der Wall dalam Oude Hollandsche Bouwkunst in Indonesie (1947) mengklasifikasikan arsitektur "Belanda-Indonesia" sebagai refleksi perpaduan idiom-idiom arsitektur Eropa dengan nilai-nilai arsitektur tradisional lokal. Tanda yang paling khas adalah bentuk atap piramida yang tinggi agar arus udara mengalir dengan lancar. Kemudian beranda yang luas pada bagian depan dan samping rumah.

"Di rumah-rumah Belanda kita juga menjumpai lubang seperti jendela di bagian bawah rumah agar udara dingin masuk dari bawah naik ke atas, sehingga udara di dalam rumah tidak panas," ujar Hilman.

Kita bisa belajar dari arsitektur luar. Romo Mangun, menurut Andy Siswanto, pernah mengajak menjelajah dan belajar serius dari peradaban arsitektur besar seperti meneladani arsitektur besar India yang intinya adalah pembebasan diri dari dunia maya.

Juga bagaimana belajar dari arsitektur Barat dan filsafatnya yang bersumber pada pemikiran Hegelian penuh drama dialektika pergulatan ruang hampa dan gatra masif, antara kebekuan statika dan gelora dinamika, antara simetri dan asimetri dan seterusnya yang semua ini berakar pada sikap Barat terhadap materi atau tepatnya fenomen.

Lalu arsitektur Yunani yang merumuskan arsitektur sebagai archetektoon dan selalu mencari hakikat secara rasional yang oleh Romo Mangun dilacak pengaruhnya sejak zaman purba sampai ke era modernisme: teknologi tinggi, bersih dan iklim citra logika bening dan matematika eksak.

Juga hikmah dari Jepang berupa kepolosan, kesederhanaan, permainan garis-garis lurus dan bidang-bidang murni yang lembut dengan penataan ruang transparan terhadap alam yang direplikasi dalam miniatur taman-taman Jepang yang berjiwa Shinto dan Buddhisme Zen.

Namun, semua ini membutuhkan perjalanan yang jauh lebih reflektif, tidak sekadar merancang. Lebih jauh, selain menolak determinisme ekonomi dalam arsitektur, Romo Mangun menggugah pentingnya pencarian citra, dalam arti arsitektur harus bermakna, memiliki kesejatian, laras terhadap ekologi dan mampu memberi kontribusi pada pembangunan kosmos yang teratur dan harmonis.

Akan tetapi, semua yang dikatakan Romo Mangun hanya bisa dilakukan oleh arsitek yang merdeka, yang geraknya tidak dibatasi dunia di luar dirinya, yang pikirannya senantiasa dipenuhi pertanyaan kritis, serta penuh imajinasi untuk mampu menyerap kejadian dan rasa.

Kalau itu tidak terjadi, secara ontologis akan dijumpai paradoks peradaban manusia: kehidupan baru atau kemajuan hanya diperoleh setelah kehancuran. Apakah sekarang ini merupakan puncak kehancuran arsitektur di Indonesia, atau baru proses menuju kehancuran?

Tragedi Arsitektur Menjual Mimpi VIDEO