ARCHITECTURAL DESIGN VIDEO

Loading...

Menjadi Modern

Menjadi Modern

MELANGKAHKAN kaki di ruang pamer Erasmus Huis sambil menatap panel-panel yang menampilkan sejumlah gambar bangunan karya arsitek muda Belanda, pengunjung akan melihat wajah Belanda yang modern. Di ruang yang hening itu, boleh dikata tak akan ditemukan gambar bangunan berlekuk klasik. Sebaliknya, yang terpampang di depan mata adalah bangunan-bangunan kosmopolitan.

Jika melihat wajah lama Belanda, yang paling mudah adalah dengan melihat bangunan peninggalan Belanda yang tersebar di seantero negeri ini, entah yang kini dipakai sebagai kantor-kantor pemerintah ataupun museum/ galeri. Nama-nama seperti Thomas Karsten, PAJ Moojen (penataan fisik Menteng, Gondangdia), Maclaine Pont (aula-aula Institut Teknologi Bandung), JH Horst (Gereja Emanuel, Jakarta), S Snuyf (Istana Merdeka, Jakarta), adalah nama arsitek Belanda yang meninggalkan jejak pengaruh arsitektur modern di Indonesia.

Kini di tangan arsitek-arsitek mudanya, Belanda menjadi modern untuk zamannya. Lihatlah karya Jeroen Simons yang menggarap Philips High Tech Campus di Eindhoven. Simons menonjolkan bentuk dan ruang yang begitu sederhana dengan efisiensi tinggi. Garis-garis sederhana tetap dipertahankan Simons untuk bangunan yang digunakan sebagai riset software. Keindahan justru ditonjolkan lewat lekuk detail anak-anak tangga.

Tak cuma itu. Menyimak proyek Simons yang bertajuk Multi Development Corporation di Gouda, kita akan melihat bagaimana gedung itu dibangun dengan mengandalkan materi kaca. Jadi, wajah modern Belanda kini identik dengan bangunan-bangunan kaca. Tidak hanya Simons yang cenderung memilih kaca sebagai "dinding" bangunan, banyak arsitek muda lainnya yang condong dengan pemakaian kaca.

Arsitek muda Belanda menapak pasti. Itu terbukti dengan kian banyaknya proyek publik ataupun proyek privat yang dipercayakan kepada mereka. Lihat Chris de Jonge yang dipercaya Intermezzo-Vrije Universiteit Amsterdam untuk menggarap Theatre Uilenstede sepanjang 1995-1998. Bersamaan dengan itu, klien Jonge, Stichting tot Bevordering van de Volksgezondheit in Milieuhgiene memintanya untuk menggarap Laboratory SUM di De Bilt.

Masih banyak nama lain. Sebut saja Paul de Ruiter, Diedrik Dam, Ad Kill, Bauke Tuinstra, Gerrit Goudkuil, Robert Mulder, Jos Van Eldonk. Mereka umumnya mendesain bangunan-bangunannya dengan sentuhan modern.

Uniknya, para arsitek muda Belanda yang tinggal tersebar di berbagai kota di Belanda ini justru baru saling kenal ketika mereka berpameran bersama di Erasmus Huis, Jakarta. Ini terungkap ketika mereka melakukan diskusi bersama AMI (Arsitek Muda Indonesia) beberapa waktu lalu.

***

BERKARYA, menciptakan suatu bangunan, adalah sebuah tantangan yang dihadapi para arsitek. Untuk bisa berkarya, tentulah mereka harus mendapatkan kesempatan terlebih dahulu guna mengimplementasikan ide-ide mereka. Dan itu berarti berkompetisi. Dengan adanya kompetisi yang sehat, tentulah diharapkan muncul arsitek-arsitek yang berkualitas.

Bicara tentang kompetisi, menurut Marco Kusumawijaya dari AMI, itu yang menjadi persoalan di Indonesia karena di sini tidak banyak kompetisi atau sayembara terbuka bagi para arsitek kita.

Sebaliknya, di Belanda ada banyak kesempatan untuk berkompetisi di mana arsitek muda bisa menunjukkan ide-ide segar. "Kalau tanpa kompetisi, proyek-proyek itu akan selalu jatuh kepada senior-senior. Kita di sini tidak ada kompetisi," kata Marco.

Sayembara atau kompetisi analog dengan lelang kalau dalam kontraktor. Tentu saja arsitek yang bekerja dalam tataran ide juga perlu "menjual" idenya melalui sayembara. Bagi mereka di Eropa, bangunan-bangunan publik banyak yang harus disayembarakan. Untuk arsitek muda Belanda, kompetisi ini memang penting untuk karier mereka dan karena Belanda termasuk di dalam Uni Eropa (EU), kompetisi di semua negara anggota EU bisa diikuti. "Tetapi, kompetisi ini pun tidak mudah karena untuk bisa ikut kompetisi mereka harus mendapat referensi dulu," kata Cor Passchier, arsitek anggota ikatan arsitek Belanda BNA.

Irianto dari AMI, setuju bahwa sistem sayembara harus dikembangkan di sini untuk memberi kesempatan kepada arsitek muda berkembang. "Anehnya, yang dilelang adalah pekerjaan sipilnya, sementara kerja arsitekturnya tidak disayembarakan," kata bambang Eryudhawan, arsitek yang juga aktif di Ikatan Arsitek Indonesia selain di AMI.

Beberapa arsitek Belanda bisa dibilang sebagai arsitek dunia yang luar biasa. Bagi para arsitek muda Belanda, hal itu tidak menjadi masalah karena arsitek-arsitek pendahulu mereka itu sudah menjadi "milik" dunia.

Para arsitek muda Belanda tidak merasa senior-senior mereka sebagai saingan yang berarti karena para senior mereka bersaing pada tingkat global. Pun begitu, pemerintah lokal umumnya membantu bila arsitek muda Belanda-di sana batasan umur untuk bisa disebut muda adlah 40 tahun-mendapat bantuan ketika mereka memulai membuka biro arsitek mereka sendiri. Mereka misalnya mendapatkan pinjaman berbunga lunak serta mendapat potongan pajak.

"Bagi kita, karena prosesnya tidak terbuka di masa lampau, maka generasi yang lebih tua menjadi masalah karena seolah-olah menjadi suatu hegemoni, suatu dominasi, sehingga dalam batas tertentu itu menghambat ide-ide dari generasi muda," kata Marco.

***

PERUBAHAN gaya arsitektur dari klasik menjadi modern memang tak terelakkan. Belanda dalam hal seni budaya arsitektur memang sangat modern dan dinamis. Hingga kini Belanda tetap mengkonservasi warisan-warisan budaya arsitektur masa lampau. Namun, di sisi lain, mereka juga sangat terbuka terhadap perubahan-perubahan modern.

Arsitektur modern dalam tanda petik dimulai sejak awal abad ini. Banyak tokoh-tokohnya memang orang-orang Belanda. Sejak itulah sebetulnya bagi orang Belanda tidak mungkin menjadi tidak modern. Menjadi modern itu justru tradisi mereka. Jadi tidak ada pertentangan antara tradisi dengan modernitas, karena modernitas bagi mereka sudah menjadi tradisi dari dalam. Itulah yang sangat kuat dalam arsitektur Belanda.

Jeroen Simons, salah seorang arsitek muda Belanda, mengatakan, struktur sosial sangat mempengaruhi bentuk arsitektur. "Saat ini kita bekerja dengan menggunakan komputer, email, mobil, dan berbagai perangkat teknologi tinggi. Tentulah itu semua mempengaruhi bentuk bangunan kita. Jadi bentuk arsitektur itu merupakan representasi waktu atau dekade saat ini," demikian alasan yang dikemukakan Simons mengenai karya-karyanya yang begitu modern.

Itulah mengapa bentuk arsitektur garapan arsitek muda Belanda yang dipamerkan hingga 28 Oktober 2000 ini sangat modern. "Karya-karya kami ini ternyata diterima masyarakat Belanda. Di beberapa pembangunan vila pribadi, klien kami justru ingin mengekspresikan bahwa mereka adalah bagian dari masyarakat dengan teknologi tinggi," kata Simons.