ARCHITECTURAL DESIGN VIDEO

Loading...

Pasar Malam Besar Tong Tong

Pasar Malam Besar Tong Tong

Juni 13, 2003

Pasar Malam Besar Tong Tong
Event kebudayaan Indo-Belanda dan Indonesia terbesar di Belanda
Oleh: Jean van de Kok, 13 Juni 2003

Setiap tahun, pada bulan Juni, di kota Den Haag diselenggarakan Pasar Malam Besar. Anda di Indonesia tidak mengenal lagi fenomena pasar malam seperti yang diselenggarakan di negeri kincir angin ini. Pasar malam besar ini mirip dengan pasar malam sebelum perang dunia kedua di Batavia. Jadi jelas, event in adalah peristiwa nostalgia dari kelompok Indo Belanda, mereka yang berdarah campuran Belanda/Eropa – Indonesia.

Budaya campuran Indis

Vincent Mahieu yang lebih dikenal dengan nama samaran Tjalie Robinson, seorang pemuka Indo-Belanda sekaligus penulis sastra beken di Belanda, adalah salah seorang inisiatornya. Ia ingin mempertahankan kebudayaan campuran Indis yang menurut catatan sejarah pernah berkembang di beberapa tempat di Nusantara. Di Batavia misalnya daerah Tugu dengan penduduk campuran Portugis/Belanda – Indonesia, terkenal dengan budaya campurannya yang antara lain membuahkan keroncong, musik khas yang juga disebut keroncong morisko, nama yang berasal dari bahasa Portugis. Sampai sekarang kelompok Indis menganggap keroncong sebagai khas musik Indo.

Pelepas rindu

Sebagian besar kelompok campuran Indo-Belanda di Nusantara tetap mempertahankan kewarganegaraan Belandanya setelah Indonesia merdeka. Ketika Indonesia memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda, mereka yang memegang paspor Belanda harus meninggalkan Indonesia. Demikian juga orang Indo Belanda yang bukan WNI. Sekitar setengah juta warga Indo-Belanda kini menetap di Belanda, dan untuk sebagian besar dari mereka, pasar malam besar Tong-Tong di Den Haag merupakan kesempatan untuk melepas rindu mereka akan tanah kelahiran mereka atau dari orang tua dan kakek/nenek.

Den Haag mendapat julukan kota Indis, karena banyaknya orang Indo-Belanda yang menetap di ibu kota pemerintahan Belanda ini. Orang Indo-Belanda mayoritas adalah “ambtenaar” di Hindia Belanda dan ketika mereka hijrah ke Belanda sebagian besar meneruskan karir sebagai pegawai negeri di berbagai departemen pemerintahan Belanda di Den Haag.

Tiga ciri khas

Pasar malam besar Tong Tong menyorot tiga ciri khas dalam kebudayaan Indo- Belanda: makan, kebudayaan dan bahasa. Berbagai restoran dan acara belajar masak bisa anda jumpai di pasar malam ini, dari makanan khas Padang, Jawa Timur sampai ke makanan Indis, makanan campuran gaya Indonesia dan Belanda. Ihwal budaya, pasar malam ini menyediakan berbagai panggung dan teater, serta mengundang para artis Indonesia dan Belanda yang berlatar belakang Indonesia untuk memamerkan kebolehan mereka.

Setiap tahun diundang orkes keroncong dari Indonesia, Belanda atau negara lain, misalnya Malaysia. Dan akhir-akhir ini dangdut pun mendapat perhatian juga. Inul penyanyi dangdut kontroversial Indonesia pernah manggung dengan kelompok dangdut bulé. Bahasa khas kelompok Indis ini adalah campuran Belanda dengan bahasa Jawa atau Melayu: bahasa Pecok. Bahasa ini masih bisa didengar selama pasar malam besar ini atau dibaca dalam beberapa buku khas. Namun di samping itu, ratusan buku dalam bahasa Belanda dan Inggris yang menyorot Indonesia dan Hindia Belanda semasa tempo doeloe, bisa kita beli di toko buku khusus di pasar malam ini.

Dibuka Ratu Beatrix

Pasar Malam Besar tahun ini diselenggarakan untuk yang ke 45 kali. Dalam rangka itu Ratu Belanda Beatrix membuka Pasar Malam ini dengan memotong nasi tumpeng yang ia serahkan kepada direktur Pasar Malam Besar Tong-Tong ibu Ellen Derksen. Kehadiran ratu Belanda merupakan kehormatan besar bagi kelompok Indo-Belanda karena selama ini mereka merasa tidak dianggap serius, sering dikaitkan dengan masa kolonial Belanda di Indonesia, dan tidak digubris permasalahan sosial mereka selama berintegrasi dalam masyarakat Belanda. Mereka bahkan dipaksa untuk berasimilasi, demikian Ellen Derksen dalam pidato pembukaannya.

Nah, pasar malam Besar Tong Tong sebagai aset kebudayaan Indis di Belanda membuktikan paksaan untuk berasimilasi ini tidak berhasil, tanpa subsidi sepeser pun dari pemerintah Belanda, Pasar Malam besar Tong-Tong berjalan mulus sampai abad ke 21, untuk yang ke 45 kalinya, demikian direktur yayasan pasar malam besar Tong-Tong ini.