ARCHITECTURAL DESIGN VIDEO

Loading...

Karya Muda di Ruang Gelap.

Karya Muda di Ruang Gelap.

Pameran karya arsitek muda kali ini menampilkan perkembangan yang menggembirakan. Tapi mengapa seperti ada penyeragaman langgam?

Tak lazim. Begitu kesan kita ketika pertama masuk ke ruang pameran Erasmus Huis. Disambut dengan dinding dari susunan kardus, kita memasuki ruang yang gelap. Dinding putih dan beberapa pintu di ruang pameran ditutupi kain hitam. Jalan menuju ke ruang pertunjukan video karya Arsitek Muda Indonesia (AMI) dihantar dengan lampu kecil berkelap-kelip. Memang selayaknya arsitek bisa menyiasati ruang seperti yang mereka inginkan. Seperti mereka menyiasati batas-batas ruang yang mereka pakai dalam rancangannya. Rumah di Ragunan karya Adi Purnomo contohnya. Dengan segala keterbatasan ruang yang tersedia, kreativitas Adi tetap tidak tersumbat, bahkan menciptakan karya yang sungguh luar biasa. Rumah tinggal di lahan dengan kedalaman 14 meter itu harus terjepit dengan garis sepadan bangunan 10 meter dan parit kecil di belakang 1 meter.

Dengan lebar lahan 3 meter, sang arsitek dapat mengoptimalkan ruang sekaligus menghadirkan karya dengan nuansa tropis. Karya Adi Purnomo lainnya, Gereja Taman Bintaro, menciptakan ruang kebaktian di bawah bukit rumput. Lebih mementingkan lingkungan yang asri, bukan gedung gereja yang sering menjulangkan menara dan salibnya. Bangunan ini pun terjepit menara listrik tegangan tinggi. Gereja di bukit suci Kelong Manado, karya Idris Samad, menyajikan ruang misterius terhadap hubungan manusia dengan Tuhannya. Melalui jalan yang berliku dan pintu masuk yang tidak langsung menghadap altar (bandingkan dengan pintu gereja biasanya yang langsung menghadap altar), kita dihantar ke dalam perenungan sebelum menghadap Sang Khalik. Bandingkan dengan masjid tanpa kubah dan minim ornamentasi dari Masjid Ar-Rayan karya Ahmad Djuhara serta Masjid Trisakti karya Jeffry Sandy dan Sukendro Sukendar Priyoso, yang memberi suasana baru. Setidaknya, suasana yang tak biasa buat kita yang sering melihat masjid dengan kubah bawang dan penuh ornamen. Menghadirkan suasana yang tak biasa dan baru menjadi semangat para arsitek muda.

Ada bermacam rancangan yang dipamerkan, mulai dari rumah tinggal, rumah ibadah, komersial, hingga sayembara, yang mendapat sentuhan arsitek muda yang ingin pembaruan. Pembaruan telah banyak dilakukan AMI. Dan karya yang mereka tampilkan sekarang merupakan karya arsitek generasi yang lebih muda. Karya-karya yang mempertanyakan esensi pembatas dalam sebuah ruang dan atap. Presentasi pun dengan kardus dan maket yang menampilkan pohon tanpa daun. Dengan berharap klien yang memberikan penugasan mempunyai imajinasi yang sama dengan keinginan sang arsitek. Sebuah keberuntungan besar buat arsitek yang memiliki klien yang mengerti imajinasi arsitek itu. Dari klien yang bijak, lahir pula karya arsitektur yang baru. Baru dalam penataan ruang, juga dalam penggunaan material.

Seperti karya Ahmad Djuhara dalam rumah baja Sugiharto yang menampilkan penggunaan material besi, seng, dan aluminium dalam karya rumah tinggal. Rumah tinggal yang murah ini bukti penolakan anggapan bahwa rumah tinggal yang dirancang arsitek itu mahal. Pencarian material baru termasuk sikap kreatif dari arsitek dunia. Di Jepang, arsitek Shigeru Ban terkenal dengan penggunaan kertas dalam karyanya. Yang menggembirakan adalah karya-karya sayembara yang dipamerkan. Semua energi sang arsitek terwujud dalam menyikapi tantangan sayembara itu. Pada sayembara pusat kesenian (art center), AMI menurunkan karya kolaborasi Ahmad Djuhara dan Wendy Juniana Djuhara, kolaborasi Maria Rosantina dan Zenin Adrian, dan kolaborasi Daliana Suryawinata dan rekan. Sikap kreatif mereka ditantang dalam menjawab sayembara pusat kesenian di lahan Galeri Nasional Jakarta.

Membangun yang baru dan menghargai yang lama. Minimnya sayembara, sebuah kendala perkembangan arsitektur di Indonesia. Banyak arsitek dunia disarkan oleh sayembara yang dimenanginya. Orang-orang muda dalam AMI membutuhkan suasana kompetisi yang sehat dalam berkarya. Kompetisi yang mendewasakan sikap dan karakter rancangan mereka. Adapun pameran kali ini, sadar atau tidak, banyak menghasilkan karya yang berlanggam seragam. Kurang bervariasi. Mungkin karena arsiteknya saling mempengaruhi. Atau sangat sedikit arsitek muda Indonesia yang terlibat. Atau memang langgam serupa melanda arsitektur dunia dan kini mengukuhkan pengaruhnya di Indonesia. AMI menjadi tempat berkumpulnya ide segar di seluruh Indonesia. Sebuah benih arsitektur di negeri ini yang mampu membangun lingkungan dan kota-kota kita dengan karakter garis tangan arsitek Indonesia. Semoga produk mereka akan lebih mencerminkan keragaman ketimbang keseragaman di waktu mendatang.