ARCHITECTURAL DESIGN VIDEO

Loading...

Wajah Arsitektur, Wajah Masyarakat






Wajah Arsitektur, Wajah Masyarakat

APA yang akan kita dapat dari foto sebuah bangunan? Rasa keindahankah? Atau ide baru? Atau bahkan tidak ada kesan sama sekali?

Foto sebuah bangunan, dalam hal ini fotografi arsitektur, punya kekhususan dibandingkan fotografi lainnya. Sama seperti fotografi makanan, fotografi arsitektur "merekayasa sesuatu" untuk mendapatkan kesan tertentu dari orang yang menyaksikan foto tersebut.

Dalam fotografi makanan, orang yang melihat foto harus tertantang untuk berselera, atau bahkan menjadi lapar. Maka sering makanan yang dipotret harus diwarnai dengan zat warna tertentu untuk mendapatkan efek lezat tersebut. Bahkan sang fotografer makanan biasanya dipilih dari orang-orang yang memang gemar makan enak.

Sedangkan dalam fotografi arsitektur, jiwa sebuah bangunan harus terekam dalam foto arsitektur tersebut. Jiwa sebuah bangunan bisa terekam cuma dari sepotong bagian bangunan, namun bisa juga dari komposisi sang bangunan terhadap lingkungan sekitar.

Dari sisi ini, fotografi arsitektur yang berhasil seharusnya dilakukan oleh orang yang memang berkecimpung dalam dunia arsitektur. Secara tidak langsung, sebuah fotografi arsitektur akan sangat berguna bagi para pelaku arsitektur juga.

Maka, pameran fotografi arsitektur bertajuk The Spirit of Time yang digelar di gedung World Trade Center, Jakarta, 23-29 Februari lalu bisa dikatakan sebagai sebuah sajian fotografi arsitektur yang mengena. Selain Yori Antar, sang fotografer adalah arsitek yang sangat aktif berkarya, obyek-obyek yang ditampilkan pun adalah obyek-obyek yang signifikan dalam dunia arsitektur, baik di Indonesia maupun mancanegara, dalam rentang waktu 15 tahun terakhir.

Hal lain yang perlu dicatat dari pameran ini adalah, mulainya fotografi arsitektur memasyarakat. Sampai saat ini memang cabang fotografi ini baru dikenal di lingkungan kecil, yaitu para pelaku arsitektur. Di Indonesia pun, baru di tahun ini ada kalender yang gambarnya khusus menyajikan sisi arsitektur bangunan, yaitu yang dilakukan Kedutaan Besar Jerman di Jakarta.

Menurut Yori, sebuah bangunan mempunyai "jiwa" yang ditanamkan perancangnya. Sebelum memotret, kata alumnus UI ini, ia mencari dulu jiwa sang bangunan. Setelah didapat, barulah ia menentukan posisi, waktu dan sudut pemotretannya.

Sukses sebuah fotografi arsitektur ditentukan seberapa jauh sang foto memberi info lengkap tentang bangunan tiga dimensi yang cuma disajikan dalam bentuk dua dimensi ini. Dalam hal foto-foto Yori Antar, terlihat sekali kepekaan sang fotografer memilih saat pemotretan. Yori tampak sadar sekali menunggu jatuhnya bayangan yang tepat pada sebuah bangunan untuk menampilkan kedalaman tertentu.

Akhirnya, fotografi memang sangat subyektif. Bagaimana pun, upaya Yori berceritera dan melapor dengan foto-fotonya sangat memperkaya kita. Banyak sekali bangunan luar biasa yang ternyata ada di Indonesia dilaporkan Yori. Kita telah belajar sekaligus merasa memiliki banyak hal baru. Fotografi arsitektur memang merekam wajah berbagai macam masyarakat