ARCHITECTURAL DESIGN VIDEO

Loading...

Arsitektur Post Modern

Arsitektur Post Modern


Pengertian Post Modern
Post modern adalah istilah-istilah yang populer dari kalangan gedongan dan para elit yang dikenal sebagai intelektual yang trendi. Istilah Post Modern sendiri lahir dan dipopulerkan oleh kritis sejarah arsitektur, Charles Jencks dalam sebuah seminar di Universitas Eidhoven tahun 1978 gagasan ini menjadi tema pembicaraan arsitektur dalam Bienal di Venesia tahun 1980. Publikasi Jencks dalam kawasan berbahasa Inggris, Heinrich Klotz dalam bahasa Jerman, dan Paulo Porthogesi dalam bahasa Italia, yang kesemuanya dikenal sebagai sejarawan abad ke-20 yang membuat istilah Post Modern menjadi populer. Pada umumnya, pengertiannya dikaitkan dengan reaksi penyempurnaan atau revisi terhadap gerakan modernisasi dalam arsitektur dan seni di Eropa Barat dan di Ameika Serikat. Post modern menunjukkan apa yang telah kita tinggalkan dan melalui tapi belum menerangkan dimana kita akan tiba. Jadi arsitektur post modern belum sampai pada tujuannya yang baru tetapi juga belum melepaskan semua makna modernya. Post modern juga bisa dimengerti sebagai filsafat, pola berpikir, pokok berpikir, dasar berpikir, ide, gagasan dan teori. Masing-masing menggelarkan pengertian tersendiri tentang dan mengenai post modern, dan karena itu tidaklah mengherankan bila ada yang mengatakan bahwa post modern itu berarti “sehabis moder” (modern sudah usai), “setelah modern” (modern masih berlanjut tetapi sudah tidak lagi popuer dan dominan), atau ada yang mengartikan sebagai “kelanjutan modern” (modern masih berlangsung terus tetapi dengan melakukan penyesuaian atau adaptasi dengan perkembangan dan pembaharuan yang terjadi di masa kini). Di dalam dunia arsitektur, post modern menunjukkan pada sesuatu proses atau kegiatan dan dapat dianggap sebagai sebuah langganan yakni langgam post modern.
Latar Belakang Post Modern
Pemunculan post modern tidak bisa dipisahkan dari aspek yang berlaku sebelumnya yakni arsitektur modern. Arsitektur modern yang sudah berjalan selama lebih kurang setengah abad mulai mencapai titik kejenuhan. Konsep-konsep yang terlalu logis dan rasional serta kurangnya memperhatikan nilai-nilai sosial, lingkungan dan emosi yang ada dalam masyarakat mendapat berbagai kritik dan tanggapan artinya arsitektur modern lebih cenderung untuk memperhatikan bagaimana caranya manusia harus hidup dan kurangnya perhatian terhadap kehidupan manusia yang sebenarnya (bersifat sepihak). Karya-karyanya pun sangat kaku, membosankan dan tidak memiliki identitas, karena mempunyai langgam yang sama pada hampir semua jenis bangunan di berbagai tempat.
Kelompok arsitek baru kemudian bertekad untuk menetapkan suatu dasar filsafat dan format baru yang lebih luas bagi desain. Dalam usahanya untuk suatu perbendaharaan arsitektur yang baru, maka para arsitek yang baru ini berpaling pada sumber-sumber yang beragam sifatnya dahulu dihindari, seperti Rennisance-Itali, Barok-Jerman, Las Vegas dan lainnya.
Pada tanggal 15 Juli 1972, blok-blok perumahan di Pruitt Igoe dan peninggalan arsitektur modern diruntuhkan. Ada yang menganggap tanggal tersebut resmi sebagai matinya arsitektur modern.
Dalam beberapa waktu, perdebatan para kalangan arsitek telah disadari oleh masyarakat sehingga para arsitek baru mulai mencoba mengadakan komunikasi di antara bangunan, masyarakat dan lingkungan. Kemudian kelompok baru mulai mengemukakan pandangan-pandangannya yakni sadar berpilih-pilih tentang tata hubung antara bentuk dan isi dan sangat peka terhadap preseden sejarah dan kebudayaan.
Kelompok ini kemudian menyebutkan dirinya sebagai arsitek “post modern” atau dalam bahasa Indonesia diartikan sebagai “pasca modern” yang mulai menonjolkan karya nyatanya pada tahun 1966-an. Sebenarnya gejala pasca modern ini sudah ditunjukkan pada pertengahan 1950-an yaitu pada karya Le Corbusier sebuah Gereja di Ronchamp yang sangat menyimpang dari gaya internasional. Pasca modern dimulai akhir 1950-an secara sedikit demi sedikit, baik secara terang-terangan maupun tersamar. Bermula dari penggunaan bentuk-bentuk lama, elemen-elemen tradisional, historis dipadu dengan penyederhanaan elemen-elemen modern. Komposisi unsur-unsur bangunan menyampaikan makna tertentu yang dapat dibaca. Demikian percobaan-percobaan dilakukan terus menerus dan diharapkan ada suatu timbal balik dari arsitek, pemakai masyarakat awam, dan lingkungan alam.
Ciri-ciri dan Pokok Post Modern
Post modern ditandai dengan timbulnya kembali bentuk-bentuk klasik, mengolah bangunan tradisi (vernakular) dan memperbaiki fungsinya. Ciri-ciri dari post modern ini antara lain:
· Aspek penyatuan dengan lingkungan dan sejarah, juga menyesuaikan dengan situasi sekitar
· Unsur-unsur yang dimasukkan tidak hanya berfungsi semata tetapi juga sebagai elemen penghias
· Pemakaian elemen geometris, sederhana terlihat sebagai suatu bentuk yang tidak fungsional, tetapi ditonjolkan sebagai unsur penambah keselarasan dalam komposisi ataupun dekor.
· Warnanya cenderung menor dan erotik, yang didominasi bukan oleh warna dasar tetapi oleh warna campuran yang banyak dipengaruhi pastel, kuning, merah dan biru ungu.
· Mengandalkan komposisi hibrid yang menghalalkan orang untuk mengambil elemen-elemen yang pernah ada untuk dimodifikasi sebagai kaya college/pastich.
Pokok Pikiran Post Modern
Pokok-pokok pikiran yang dipakai oleh para arsitek post modern yang tampak dan ciri-ciri bangunannya yang membedakan dengan modern:
1. Tidak memakai semboyan Form Follow Function. Arsitektur post modern mendefinisikan arsitektur sebagai sebuah bahasa dan oleh karena itu arsitektur tidak mewadahi melainkan mengkomunikasikan. Untuk arsitektur Post Modern yang dikomunikasikan adalah identitas regional, identitas kultural atau identitas historis. Hal-hal yang ada di masa silam itu yang dikomunikasikan, sehingga orang bisa mengetahui bahwa arsitektur itu hadir sebagai bagian dari perjalanan sejarah kemanusiaan, atau dapat pula dikatakan bahwa arsitektur post modern memiliki kepedulian yang besar kepada masa silam (the past).
2. Fungsi
Yang dimaksud dengan fungsi di sini bukanlah aktivitas, bukan pula yang dikerjakan atau dilakukan manusia oleh manusia terhadap arsitektur (keduanya diangkat sebagai pengertian tentang fungsi yang lazim digunakan dalam arsitektur modern). Dalam arsitektur post modern yang dimaksud fungsi adalah peran dan kemampuan arsitektur untuk mempengaruhi dan melayani manusia. Yang dimaksud manusia bukan melakukan kegiatan, tetapi sebagai makhluk yang berfikir, bekerja, memiliki perasaan dan emosi, makhluk yang punya mimpi dan ambisi, memiliki nostalgia dan memori.
Fungsi di sini adalah apa yang dilakukan arsitektur bukan apa yang dilakukan manusia dan dengan demikian fungsi bukan aktivitas. Dalam Posmo perancangan dimulai dengan melakukan analisa fungsi arsitektur, yaitu:
a. Arsitektur mempunyai fungsi memberi perlindungan kepada manusia (baik perlindungan terhadap nyawa maupun harta)
b. Arsitektur memberikan perasaan aman, nyaman, nikmat.
c. Arsitektur mempunyai fungsi untuk menyediakan dirinya dipakai manusia untuk berbagai keperluan.
d. Arsitektur memberikan kesempatan kepada manusia untuk bermimpi dan berkhayal
e. Arsitektur memberikan gambaran dan kenyatan yang sejujur-jujurnya
Sehingga dalam post modern yang ditonjolkan di dalam fungsinya itu adalah fungsi-fungsi metaforik (simbolik) dan historikal.
3. Bentuk dan Ruang
Di dalam post modern, bentuk dan ruang adalah komponen dasar yang tidak harus berhubungan satu menyebabkan yang lain (sebab akibat). Keduanya menjadi dua komponen yang mandiri, sendiri-sendiri, merdeka sehingga bisa dihubungan atau tidak. Yang jelas bentuk memang berbeda secara substansial, mendasar dari ruang. Ciri pokok dari bentuk adalah ada dan nyata/terlihat/teraba, sedangkan ruang mempunyai ciri khas ada dan tidak terlihat/tidak nyata. Kedua ciri ini kemudian menjadi tugas arsitek untuk mewujudkan. Dalam post modern bentuk menempati posisi yang lebih modern untuk menempati posisi yang lebih dominan daripada ruang.
Tokoh dan Karyanya
A. Michael Graves



Lahir di Indianapolis dan mendalami arsitektur di University of Cincinnati dan Havard University. Konsep Graves adalah menafsirkan ualng gaya rasional yang diperkenalkan oleh Le Corbusier pada tahun 1920-an menjadi gaya neoklasik yang kemudian dia mengembangkan paham ekletik yang mengasbtrakkan bentuk-bentuk historikal dan menekankan penggunaan warna. Graves tidak memperdulikan akar-akar modernisme dan menghasilkan suatu visi klasisme yang kontras atau ironis dimana bangunan-bangunannya hanya menjadi klasik dalam hal massa dan susunan. Dia menerapkan humor sebagai bagian dari arsitektur. Rancangan-rancangannya yang terakhir dianggap oleh banyak ornag tidak berselera dan banyak imitasi belaka.
Salah satu karya Michael Graves adalah Public Service Building (1980-1982) di Portland, Oregon. Bangunan ini memiliki bentuk yang global, sangat sederhana seperti kotak atau blok ada yang mengatakan seperti sebuah kado natal raksasa dan ada yang mengataka seperti dadu.
…..
Kotak seperti dadu bagian utama dari The Portland terletak di atas unit di bawahnya seolah-olah ada sebuah tumpuan berwarna biru kehijauan, kontras dengan warna atasnya coklat susu cerah. Di bagian atas atau atapnya yang datar terdapat konstruksi seperti rumah-rumahan kecil mirip seperti kuil-kuil dari arthemis Yunani beratap piramid dan pelana.
…….


B. Charles Moore


Salah satu karyanya adalah
Piazza d’italia (1975-1980) sebuah taman atau ruang terbuka dalam rangka renovasi kawasan kumuh di New Orelans Amerika Serikat, ditujukan untuk para imigran Italia yang mendominasi daerah tersebut.
Denah bangunannya berupa lingkaran, diperkuat dengan garis-garis melingkar pada lantai dengan warna dari bahan pada tengah taman di buat model tanah Italia yang berbentuk seperti sepatu tinggi, dikelilingi kolam menggambarkan laut mediterania. Unsur modern art deco dimasukkan dalam beberapa kepala kolom di sela-sela kolom-kolom Italia tersebut.


C. Aldo Rossi


Berasal dari Milan Italia, lahir tahun 1913. Selain sebagai arsitek praktisi, pengajar juga banyak karya-karya tulisnya baik mengenai arsitektur kota maupun arsitektur. Karya-karyanya adalah:
· Teather Dunia I (II Teantro del mondo) 1978 di Venesia
Venesia ini merupakan kota kuno abad pertengahan di Italia, termasyur dengan keunikannya “terapung” di laut. Denahnya bujur sangkar 9,5 x 9,5 m2 di atas plarform semacam rakit 25 x 25 m. Bagian utamanya tingginya 11 m, di atasnya terdapat sebuah menara berdenah segi delapan setinggi 6 m, atapnya kerucut berisi delapan.

· Teater Carlo Felice (1983-1989) di Genoa Italia
Teater ini dibangun oleh Rossi bersama tiga arsitek lain yaitu I. Gardell, F. Reinhart dan A. Sibilia, dengan menggabungkan elemen-elemen klasik Yunani Ranaissance dengan elemen modern. Pemakaian unsur lama ciri arsitektur Post Modern antara lain gotic, terdapat dalam sebuah kerucut yang aneh, karena diletakkan di dalam di atas lobby utama.


D. Ricardo Bofil


Merupakan arsitek kelahiran Barcelona Spanyol. Salah satu karyanya adalah:
· The Palace of Abraxas (1978-1983)

Adalah sebuah apartemen modern di Marnella-la-Valle, sebuah kota baru di pinggiran timur Kota Paris. Apartemen ini terdiri atas dua unit dengan bentuk dan tata letak yang sangat unik, yang satu denahnya bagian dari setengah lingkaran, yang lain berupa blok di tengah bawah kosong seperti arc de triomphe. Bagian atas dari apartemen berlantai sepuluh terdapat balkon, balustradenya di beri alur-alur seolah-olah seperti kepal dari kolom Yunani.
Arsitektur Post Modern di Indonesia
Banyak yang menyambut kedatangan Arsitektur Post Modern Indonesia dengan gembira. Mengikuti harapan yang diutarakan di tempat awal munculnya aliran tersebut, Arsitektur Post Modern Indonesia juga diperkirakan mampu menembus dominasi aliran Internasional Style yang berjaya di Indonesia sejak tahun 70-an. Untuk itu beberapa artikel ditulis di majalah-majalah populer di Jakarta mengenai aliran ini dengan optimistik.
Arsitektur Post Modern sendiri diperkirakan muncul sekitar tahun 50-an di Eropa dan Amerika dalam wujud yang masih kasar dan kurang meyakinkan untuk diperhitungkan sebagai bibit unggul. Karena itu, tidak ada satupun sejarawan yang mengangkat dan membicarakannya, sebab mreka disibukkan dengan pekerjaan mengamati perkembangan Gerakan Modern yang ketika itu sudah menampakkan potensinya sebagai kekuatan baru di bidang arsitektur. Karya-karya itu mulai dibicarakan kembali setelah sebuah bentuk baru karya arsitektur mulai nampak di antara sejumlah karya-karya beraliran International Style. Itu berlangsung dalam periode 70-an dan semakin insentif pemunclan dalam sepuluh tahun terakhir ini.
Kalau mengambil pokok-pokok pikiran post modern untuk meninjau keadaan dan perkembangan arsitektur di Indonesia, maka arsitektur post modern sudah ada di Indonesia sejak tahun 1970-an, melalui pandangan dan karya dari Y.B. Mangunwijaya. Di sini Y.B. Mangunwijaya menghadirkan karya arsitektur yang tergolong ke dalam sub langgam post modern.
Awalnya kedudukan arsitektur post modern di Indonesia bisa dilihat sebagai komoditi oleh kelompok masyarakat tertentu saja, yang hanya berkecimpung aktif dalam pembangunan ekonomi. Arsitektur Post Modern di Indonesia hanya dianggap sebagai hasil fancy atau minderwertigkeits-kompleks negara berkembang karena takut disebut terbelakang.
Kecenderungan yang kuat pada arsitektur post modern di Indonesia hanya bertumpu pada figurativism atau graphism seperti yang muncul pada Delta Plaza Surabaya, Gedung Universitas Atmajaya Jakarta atau gedung-gedung lainnya di jalan Kuningan Jakarta. Post Modern di Indonesia dilihat oleh arsitek sebagai gerakan Internasional, yang tidak menawarkan konsep baru tentang ruang dan lingkungan yang menjadi tempat keberadaan manusia, tetapi lebih pada bungkus sosok yang dapat ditelusuri dari Modernisme.
Post Modern tidak bisa disebut suatu epoche kultural karena yang dicapainya hanya sekedar popularitas, bukan pemberian nilai tambah yang memperkaya konsep beradanya manusia dalam lingkungan binaan Arsitektural. hal ini ditandai dengan adanya beerapa diantara karya-karya baru di Indonesia yang mencoba-coba menampilkan elemen tradisional pada tempat-tempat tertentu di bangunannya, yang pasti ditopang oleh dalih kontekstual, baik regional maupun lokal. Pada dasarnya mereka lupa bahwa bukan seperti itu kontekstual yang dibayangkan oleh para pencetus Arsitektur Post Modern, melainkan yang komunikatif yang dikenal secara populer oleh warga masyarakat setempat.
Post Modern dan Alirannya
Ada enam aliran yang menjadi sumber terbentuknya langgam gaya arsitektur Post Modern yaitu:
1. Aliran histiricsm
2. Aliran straight revivalis
3. Aliran neo vernacular
4. Aliran urbanist yang memiliki dua ciri yaitu
a. ad hoc
b. kontekstual
5. Aliran methapor
6. Aliran post modern space


Sumalyo, Yulianto, 1996. Arsitektur Modern Akhir Abad XIX dan Abad XX, Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Suriawidjaja, P. Eppi, alt., 1983. Persepsi Bentuk dan Konsep Arsitektur, Djambatan, Jakarta.
www.architecture.com/greatbuilding.
www.bluffon.edu/-Sullivanm/www.michaelgraves.com.
www.geogle.com/postmodern.
Wiryomartono, Poerwono Bagoes, 1993. Perkembangan Gerakan Arsitektur Modern di Jerman dan Post Modernisasi, Universitas Atmajaya, Yogyakarta.
Hutagalung, Rapindo, 1992. Architrave. Badan Otonomi Architrave Bekerjasama dengan PT. Mitramass Mediakarsa, Jakarta.

Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

EDDI’s House was named after the nickname of one of the architects and is said to be located in a very harsh environment. This is why this project is not about connecting the home with its exterior, but rather emphasizing on the interior. Here is more official information: “The design concept is “Go in to go out,” meaning that the house has an outside patio at the center of the house onto which each and every room looks out. Furthermore, a balcony is placed above and adjacent to the central patio overlooking it such that this combination of open spaces creates an “interface” between the outside proper and the inside that acts a filter, a buffer, or a cushion between the two zones.” The large and spacious interiors all pointing to the inner patio make up for the unfriendly environment, turning this project into an isolated but extremely elegant crib.

ed 230710 01 940x705 Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

ed 230710 04 940x705 Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

ed 230710 03 940x743 Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

ed 230710 02 940x847 Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

ed 230710 05 940x705 Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

eddi house5 Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

eddi house2 Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

eddi house Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

ed 230710 19 940x705 Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

ed 230710 14 940x705 Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

ed 230710 13 Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

eddi Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

ed 230710 20 940x701 Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

ed 230710 21 940x705 Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

ed 230710 12 940x1410 Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

ed 230710 11 940x1410 Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

ed 230710 10 940x1410 Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

ed 230710 09 940x626 Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

ed 230710 08 940x626 Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

ed 230710 07 940x619 Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

ed 230710 06 940x624 Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

ed 230710 25 940x1253 Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

ed 230710 23 940x705 Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

ed 230710 22 940x705 Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment

eddi house floor plan Contemporary Architecture Making Up For A Harsh Environment



Napak Tilas Kerajaan Samudera Pasai

Napak Tilas Kerajaan Samudera Pasai


Menyusuri jejak kerajaan Samudera Pasai, Aceh, pertengahan April lalu, dalam rangka melengkapi data penulisan novel berlatar belakang sejarah Samudera Pasai, aku menemukan beragam pengalaman, termasuk kejadian gaib.

Dari Jakarta, awalnya aku ingin menempuh perjalanan melalui laut agar bisa merasakan desir angin laut menerpa wajahku, seperti Ibnu Batutta ketika berkunjung ke sana. Namun niat itu urung. Karena selain membutuhkan waktu minimal empat hari, sebuah mimpi membatalkan keinginan itu. Dalam mimpi sehari sebelum berangkat itu, aku didatangi seorang putri yang mengisyaratkan agar aku tidak berangkat melalui laut.

Akhirnya aku mencari jalan aman, dengan naik pesawat dari Jakarta ke Medan. Cuaca sedang tidak bersahabat saat itu, pesawat berputar-putar di udara menunggu sinyal aman dari Bandara Polonia, Medan. Aku berdoa dalam hati, agar diberi keselamatan dalam perjalanan. Pesawat pun tidak bisa mendarat sesuai jadwal. Satu jam kemudian, pesawat mendarat di Medan dengan selamat.

Dari Medan aku harus menuju Lhoksuemawe, pusat kerajaan Samudera Pasai zaman dulu. Dengan menggunakan bus berpenyejuk udara, aku memilih berangkat tengah malam agar sampai di Lhokseumawe pagi. Sekitar enam jam perjalanan malam itu aku manfaatkan untuk tidur agar sampai kota tujuan dengan kesegaran pagi yang indah.

Pagi hari, bus memasuki Lhokseumawe, kota seluas 181,06 kilometer persegi, yang berbatasan dengan Selat Malaka di sebelah utara. Bus berhenti di Terminal Bus Lhokseumawe. Suasana terminal tidak terlalu ramai. Baru beberapa langkah aku ke luar terminal, para tukang betor (becak motor), kendaraan khas kota Aceh, menyambutku. Satu orang kupilih untuk mengantarkan aku ke tujuan, pusat Kerajaan Samudera Pasai.

Tukang betor itu, Bang Win, rupanya sangat tertarik dengan niatku. Meski asli Aceh, ternyata ia mengaku belum pernah berkunjung ke sana. Tetapi Bang Win mengetahui lokasinya, yaitu di Guedong, 15 kilometer lebih ke arah timur dari Kota Lhoksuemawe. Setelah biaya jasa transportasi disepakati, aku pun mencari penginapan. Usai sarapan pagi, Bang Win siap membawaku ke Guedong.

Perjalanan setengah jam itu pun aku nikmati sambil melihat kiri kanan jalan.

Di Pasar Guedong, betor belok ke kiri, menuju makam Raja Malikussaleh. Di daerah ini, aku sudah memasuki pusat Kerajaan Samudera Pasai pada abad ke-13. Perjalanan menuju makam melewati sawah-sawah dan rumah penduduk. Ternak sapi dan kambing terlihat di sepanjang perjalanan. Kata Bang Win, ternak itu dibiarkan liar begitu saja, tidak dikandangkan, tetapi pemiliknya mengetahui mana ternak milik mereka, mana milik orang lain.

Jam menunjuk pukul sepuluh ketika aku tiba di Makam Malikussaleh. Yakub, penjaga Makam, menyambutku dan kami sempat ngobrol. Satu jam sebelum kedatanganku, kata Pak Yakub—begitu aku memanggil pria 70 tahun itu--sudah datang rombongan 50 orang dari Bandung yang berkunjung ke makam ini. Setiap hari, Makam Malikussaleh dan Malikuddhahir memang tidak pernah sepi oleh kunjungan para penziarah. Umumnya mereka datang dari luar kota, bahkan tidak sedikit yang datang dari negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura.

Menempati areal sekitar 200 meter persegi, makam itu dikelilingi pagar setengah tembok yang tingginya sekitar dua meter. Di sisi kanan dari arah jalan, terdapat dua pohon besar, yang kata Pak Yakub, berusia ratusan tahun.

Selain dilindungi oleh rimbunnya dua pohon besar, makam itu juga diayomi saungan sehingga terhindar dari terik matahari dan hujan. Di atas saungan, terdapat tulisan kalimat yang diambil dari ukiran di batu nisan makam Malikussaleh dan Malikuddhahir yang berbunyi: Dikubur almarhum, yang diampuni, yang takwa, pemberi nasihat, yang dicintai, bangsawan, yang mulia, yang penyantun, penakluk, yang digelar dengan “Sultan Al-Malikussaleh”. Yang paham agama, yang berpindah (wafat) dalam bulan Ramadhan tahun 690 H.

Sementara itu, tulisan lain berbunyi: Ini kubur yang bahagia, yang syahid, almarhum “Sultan Al-Malikuddhahir”. Matahari (pemberi cahaya) dunia dan agama, Muhammad anak Al-Malikussaleh, wafat pada malam ahad 12 hari bulan Zulhijah tahun 726 H.

Sekitar setengah kilometer dari makam itu ada lokasi yang dulu merupakan istana Kerajaan Pasai. Sayang sekali, wujud fisik bangunan yang berada persis di bibir pantai Lhokseumawe, Aceh Utara, itu tak lagi bisa dinikmati. Kawasan itu sudah beralih fungsi menjadi lahan pertambakan. Bekas-bekas pondasi dari batu bata merah masih terlihat di atas tanah tempat kerajaan berdiri. Di atas tanah seluas lebih dari lima hektare itu, kebesaran kerajaan masih sangat terasa.

Di lokasi itu juga terdapat makam Peut Ploh Peut, ulama yang meninggal karena dieksekusi Raja Bakoi, salah satu raja di Pasai, yang menganggap ulama itu sebagai lawan politiknya. Atas kesewenang-wenangannya, rakyat menjuluki dia Raja Bakoi, yang menurut masyarakat setempat berarti pelit.

Setelah dari makam Malikussaleh dan Malikuddhahir, aku menuju makam Sultanah Nahrisyah, sekitar satu kilometer ke arah pantai. Letak makam memang tidak jauh dari bibir pantai. Hanya dibatasi tambak-tambak ikan yang konon pada zaman kejayaan Samudera Pasai adalah kanal-kanal kecil yang dapat dilalui perahu untuk transportasi laut.

Makam Ratu Nahrisyah yang terbuat dari marmer dengan ukiran bermotif flora itu sangat mengesankan. Marmer-marmer mewah cokelat susu itu didatangkan khusus dari Gujarat, India, untuk menghias tempat peristirahatan terakhir sang ratu. Makam ini bisa dibongkar pasang, seperti lembaran papan yang bisa disusun ulang.

Dari makam Ratu Nahrisyah, aku memandang ke arah pantai, ke Selat Malaka. Aku pun membayangkan, dulu pada abad ke-13, tempat ini adalah dermaga yang begitu besar dan indah, tempat perdagangan internasional yang begitu sangat terkenal. Pedagang dari Eropa, India, Afrika, Timur Tengah, semuanya tumpah ruah di sini.

Menurut catatan, begitu terkenalnya kejayaan Samudera Pasai ketika itu, Mahapatih Kerajaan Majapahit, Gajah Mada, berambisi untuk menaklukannya di bawah Sumpah Palapa.

Tahun 1350, Majapahit menyerang Samudera Pasai, dibantu dengan sekutunya dari kerajaan hindu– Sriwijaya dan India. Perang inilah yang mungkin membuat kejayaan Samudera Pasai selanjutnya tak tertuliskan. Seakan berhenti di kekuasaan Sultanah Nahrisyah, putri Sultan Malikuddhahir III.

Padahal, menurut Ramlan Yunus, anggota tim peneliti peninggalan Kerajaan Samudera Pasai, dan kata penjaga makam Ratu Nahrisyah, kekuasaan Samudera Pasai tidak berhenti hanya sampai Ratu Nahrisyah. Berdasarkan catatan artefak yang terdapat di makam-makam lain, yang hingga saat ini masih terus ditemukan, kekuasaan Samudera Pasai berlanjut hingga abad ke-16 meski bukan lagi dari darah daging Malikussaleh.

“Harus ada penelitian yang berkesinambungan dan catatan yang tersusun untuk menggali kembali kejayaan Samudera Pasai. Karena hingga kini, belum ada keseriusan dari pemerintah setempat untuk menggali silsilah dan sejarah Samudera Pasai lebih jauh,” kata Ramlan, yang saat itu menemani aku mengunjungi Makam Sultanah Nahrisyah.

Lebih jauh Ramlan menceritakan bahwa ia bersama tim yang diketuai Taqiyuddin Muhammad Lc bekerja secara independen untuk mendata dan menggali jejak-jejak peninggalan kerajaan Samudera Pasai. Karena di sekitar makam Ratu Nahrisyah, sering ditemukan barang-barang berharga dari peninggalan abad ke-13 dan ke-14. Bahkan belum lama ini, ditemukan stempel kerajaan yang diyakini peninggalan pada masa berkuasanya Malikuddhahir II.

Dalam perjalanan ini, aku mengalami kejadian yang sulit dipercaya. Dari makam sang ratu, aku pulang ke penginapan untuk beristirahat. Tetapi antara sadar dan tidak, aku merasa didatangi dua orang berpakaian layaknya prajurit kerajaan. Mereka memaksaku untuk kembali ke makam Ratu Nahrisyah.

"Ayo, ikut kami kembali ke makam Ratu Nahrisyah," ajak dua orang prajurit itu.

Aku tercengang, tidak percaya pada apa yang aku lihat. "Tidak mau, aku tidak mau ikut," ujarku, menolak sambil berteriak histeris menyebut Allahu Akbar berulang-ulang.

Begitu sadar, aku lihat Bang Win, pemandu-ku sudah ada di depanku sambil menatapku bingung.

"Apa yang telah terjadi, Bang?" tanyaku pada Bang Win.

"Kamu baru saja berteriak sambil merontak-rontak," jawab Bang Win.

Aku ceritakan kepada Bang Win apa yang aku alami.

Kegaduhan itu juga mengundang tetangga kamar yang langsung berdatangan ke kamarku. Mereka bertanya-tanya, “Kenapa? Ada Apa?”

Kepada mereka, aku pun menceritakan apa yang baru saja aku alami. Salah satu dari mereka menganjurkan agar aku kembali lagi ke makam Ratu Nahrisyah.

“Coba kamu kembali ke makam Putri Nahrisyah, mungkin ada yang terlupa di sana,” kata salah satu dari mereka.

Aku tidak menghiraukan anjuran itu karena badanku agak lelah. Bang Win pun menganjurkan agar aku istirahat kembali. Namun, baru beberapa menit berlalu, aku kembali didatangi dua prajurit tadi dan memaksaku untuk ikut mereka. Tanganku dicengkeram oleh dua prajurit itu.

“Ayo ikut kami,” kata dua prajurit itu.

Aku berontak sekuat tenaga. Karena dalam pikiran sadarku, kalau aku ikut mereka, berarti rohku yang ikut. “Tidak mau! Tidak mau. Aku tidak mau ikut. Allahu Akbar, Allahu Akbar!”

Aku kembali tersadar. Kejadian itu disaksikan oleh empat orang yang ada di ruangan. Mereka langsung menenangkan aku. Tanpa pikir panjang lagi Bang Win langsung membawaku kembali ke makam Ratu Nahrisyah.

Setibanya di sana, aku bertemu lagi dengan Ramlan. Aku ceritakan kepadanya apa yang aku alami.

“Hal-hal aneh memang sering terjadi di tempat ini. Pada 1994, ketika kompleks pemakaman ini dipugar, ada orang yang mengukur salah satu makam dengan jengkalan kaki. Detik itu juga, orang tersebut mulutnya langsung berbusa dan tidak sadarkan diri. Orang itu baru sembuh ketika kita meminta maaf pada hal yang gaib,” tutur Ramlan. ”Pada 2004 lalu, ketika terjadi tsunami, ketinggian air di tempat ini sekitar satu meter dua puluh senti. Air setinggi itu tidak melewati makam ini, namun menjebol tembok-tembok pembatas makam yang mengelilinginya.”

Oleh Ramlan, aku pun diantar kembali ke makam. Rupanya dua blok dari makam Ratu Nahrisyah, hanya sepuluh langkah jaraknya, aku melihat makam-makam prajurit kerajaan Samudera Pasai. Mungkin mereka marah kepadaku karena tidak kusapa. Dan aku merasa sangat beruntung karena aku dituntun untuk kembali lagi ke makam tersebut. Karena pada kunjungan yang kedua, aku akhirnya dapat melihat makam Panglima Kerajaan Samudera Pasai yang panjangnya kurang lebih tujuh meter.

Ketika kejadian ini aku ceritakan kepada rekanku yang tinggal di Lhoksuemawe, dia menanggapinya dengan serius. “Seperti yang pernah aku ceritakan kepadamu Gar, di sekitar makam para prajurit itu, warga sering menemukan uang emas saat hujan turun. Sayang aku belum pernah melihat makam itu.”

Aku bergidik mendengar penjelasannya walau tentu tidak ada maksud untuk menakut-nakutiku. Bagaimanapun pengalaman itu sangat berarti buatku.

Arsitektur Post Modern. Wawancara dengan koran Seputar Indonesia

Arsitektur Post Modern.

24

Musée du Louvre (#313)[artikel khusus] astudioarchitect.com Beberapa waktu lalu, saya dihubungi oleh Mbak Raya dari Koran Seputar Indonesia untuk wawancara tentang arsitektur postmodern. Tampaknya, media arsitektur yang mengulas arsitektur bagi khalayak umum juga mulai tertarik dengan istilah ini. Meskipun pertanyaan yang diajukan seputar hubungannya dengan arsitektur yang dikenal masyarakat, menurut saya justru disini letak dari korelasi yang mendasar dari keingintahuan masyarakat dengan gerakan filsafat dan arsitektur yang seringkali masih terasa jauh dari pemahaman yang sebenarnya.

Harold Washington Library Ornamentation
Unsur simbolisme dan metafor yang seringkali hadir dalam arsitektur Post Modern

Pertanyaan seputar dunia postmodern memang agak susah dipahami. Karena konsep ini sangat mendalam dan bila dijelaskan bisa satu buku sendiri. Ada ahli-ahli teori dalam dunia akademisi yang lebih tau dari saya sebenarnya. Karena itu, silahkan berkomentar bila sekiranya ada pendapat saya yang kurang selaras dengan teorinya.


Apa definisi dari post modern? Tolong jelaskan ?
Untuk mengerti tentang Postmodernisme, kita harus mengerti tentang 'modernisme', karena pada dasarnya postmodern adalah gerakan kritis terhadap 'modern'. Arsitektur modern adalah jenis arsitektur yang mendasarkan diri pada fungsi, tiadanya ornamentasi, dan penghilangan unsur-unsur dekoratif yang tidak perlu. Contohnya: arsitektur minimalis murni adalah jenis arsitektur modern yang berkembang. Arsitektur seperti ini tidak mengakomodasi elemen dekoratif, simbolik ataupun tradisional.

Postmodernisme adalah sebuah gerakan berdasarkan pandangan kritis atas gerakan modern yang dirasa tidak lagi manusiawi atau dapat menyelesaikan problem-problem dalam dunia modern itu sendiri. Dalam arsitektur menjadi sebuah gerakan baru untuk memberikan keleluasaan bagi berbagai faktor rancangan yang tidak pernah tercakup sebelumnya dalam arsitektur modern agar bisa muncul dan terakomodasi.

Postmodernisme bukanlah sebutan akan gaya arsitektur belaka, tapi lebih jauh dari itu, merupakan gerakan filsafat dan moral yang patut dicermati sebagai bagian dari kritik terhadap teori arsitektur modern yang cenderung meniadakan unsur-unsur yang manusiawi seperti simbolisme, dekorasi, dan hal-hal yang sifatnya non fungsional. Hal ini karena arsitektur modern yang kaku dan mendasarkan diri pada fungsi dirasa tidak dapat memberi solusi bagi keinginan manusiawi untuk lebih bebas berekspresi.

03g Southern California CalTrans Headquarters - Broad Plaza (E)
Ekspresi yang cenderung berlebih dalam konstruksi yang dibuat menjadi dekorasi, yang selalu dianggap tidak fungsional dan dekoratif biasanya diabaikan dalam arsitektur modern.

Bila kita tarik ke Indonesia, maka filsafat postmodernisme akan lebih dapat diterapkan karena pada dasarnya masyarakat kita sangat menyukai pembebasan bentuk-bentuk yang sifatnya dekoratif dan simbolik, misalnya: meskipun gaya rumah atau apartemen yang digunakan modern, tapi seringkali menggunakan ornamentasi atau dekorasi, dan banyak elemen yang sifatnya simbolik, misalnya: kepercayaan terhadap petungan Jawa, atau Feng Shui. Contoh lainnya, meskipun gaya arsitektur yang digunakan adalah 'gaya minimalis', tapi sebenarnya masih banyak ornamentasi yang dicoba untuk ditampilkan, misalnya dekorasi lis profil. Dalam arsitektur 'modern' yang murni, hal seperti dekorasi atau simbolisme itu tidak boleh ada.

gamelan
Untuk mengangkat kembali nilai-nilai arsitektur tradisional, bisa dilakukan kedalam arsitektur yang berkonstruksi modern untuk mencapai nilai-nilai yang dipahami dalam dunia modern

Ciri-ciri arsitektur post modern? Sebutkan dan beri contoh? Bagaimana dengan bentuk atapnya? Pilarnya? Apa yang ditonjolkan dalam gaya post modern?

Dalam bicara postmodern, secara dangkal kita bisa mengkaitkannya dengan bentuk bangunan seperti bentuk atap, penggunaan pilar, atau ornamentasi. Bahkan bentuk-bentuk yang aneh seperti Plaza Ex juga bisa disebut postmodern. Tapi kita tidak bisa melihatnya dengan pengertian yang dangkal, bila ingin memahami postmodern.

Left image source from archiwork.net


Betul bahwa metode akomodasi bentuk-bentuk elemen tradisional atau simbolisme dapat digolongkan menjadi metode desain dalam postmodernisme, tapi bukan berarti semua yang mengandung atap tradisional atau aneh, pilar gaya Romawi, dan sebagainya bisa langsung disebut sebagai Postmo. Tanpa adanya pengertian mendasar tentang postmodernisme, maka hasil karya seorang arsitek boleh jadi terlihat seperti postmodern, tapi sebenarnya ia adalah bagian dari gerakan yang harus dikritisi kembali bila metodenya tidak mendasar.

Ciri-ciri arsitektur postmodern adalah mengakomodasi fungsi dan bentuk yang dirasa perlu untuk hadir dalam rancangan, misalnya arsitektur tradisional, simbolisme, dekorasi, dan sebagainya. Misalnya, bila arsitektur sebuah bangunan itu penuh dengan garis-garis tumpang tindih seperti sarang burung... boleh jadi sang arsitek sedang mengakomodasi bentuk sarang burung dalam bangunannya. Bila dalam desain bangunan terdapat pilar gaya Romawi atau pilar gaya Jawa, tapi menggunakan konstruksi modern, boleh jadi sang arsitek sedang mengakomodasi bentuk ornamentasi dan budaya Romawi atau Jawa dalam bangunannya.

apakah ada contoh bangunan di Indonesia bergaya post modern? Jika ada beri contoh?

Bangunan tinggi bergaya Mediterania, Romawi klasik, atau Jawa (bila ada) adalah contoh dari bangunan postmodern. Meskipun disini, sekali lagi kita tidak bisa menjamin bahwa arsiteknya sendiri mengerti tentang konsep postmodernisme.

Left image source from www.sewa-apartemen.net

patokan atau pakem untuk membuat bangunan post modern? Apa yang harus dipikirkan dan dilakukan?

Tidak ada pakem atau patokan khusus dalam dunia desain postmodernisme. Yang ada adalah pandangan bahwa disamping fungsi bangunan, kita masih dan sebaiknya mengakomodasi berbagai elemen lain seperti simbolisme, tradisi, dekorasi dan konteks lainnya, seperti konteks sosial budaya. Dengan pandangan seperti ini, bangunan yang dirancang tidak akan kaku dan dapat lebih mengakomodasi kebutuhan maupun sisi manusiawi dari pemakainya dan orang yang melihat bangunan tersebut.

sudah umumkah diterapkan di Indonesia?

Sudah umum, tapi umumnya orang Indonesia tidak mengerti konsep postmodernisme, mungkin yang terlihat adalah bangunan yang lain daripada yang lain, atau bangunan yang terlihat seperti di luar negeri, atau pandangan yang lain. Pada dasarnya banyak arsitek mendesain bangunan postmodernisme, tapi tidak mengerti yang dirancang ataupun jenis metode yang mereka gunakan. Tapi sebagian juga sudah mengerti.

tema atau desain yang mana yang cenderung sudah mendekati post modern?

Tidak ada tema atau jenis desain khusus dalam desain postmodern. Yang harus dilakukan adalah memahami dahulu konsepnya, dan kemudian baru tema bisa muncul. Contohnya, pahami dahulu mengapa kita harus menggunakan pilar gaya Romawi. Menurut dunia postmodern, elemen khusus seperti pilar atau bagian bangunan lain yang memiliki simbolisme dapat dihadirkan dalam rancangan bangunan sebagai bagian untuk melengkapi desain, apakah itu dengan tujuan menghadirkan kesan berwibawa, stabil, atau lainnya. Banyak elemen ditambahkan dalam rancangan bangunan dalam kerangka konsep yang mengakomodasi unsur-unsur yang non-modern itu tadi.

warna yang dominant di bangunan post modern?

Sama seperti tema, tidak ada warna dominan dalam bangunan postmodern.

Apakah gaya post modern bisa disebut desain futuristic?

Tidak semua bangunan postmodern 'terlihat' futuristik. Memang benar, karena bangunan postmodern banyak yang didesain dengan cara yang tidak sama seperti pendahulunya, misalnya bangunan icon postmodern "Pompidou Center" di Paris, dimana semua struktur bangunannya berada diluar dan terlihat futuristik. Contoh lain seperti pyramid kaca karya I.M. Pei di Museum Louvre, atau Guggenheim Museum karya Frank Gehry di Spayol. Kesemuanya tampak futuristik bagi sebagian orang yang melihatnya.

Museo Guggenheim Bilbao
Museum Guggenheim Bilbao, Spanyol. Salah satu icon postmodernisme yang sangat terkenal.

Musée du Louvre (#313)
Museum Louvre, Paris dengan piramid kaca yang didesain oleh I.M. Pei. Bagaimana sebuah piramid kaca bisa hadir dalam lingkup kompleks bangunan bergaya Eropa, dapat dijelaskan melalui pemahaman postmodern, tapi tidak melalui pemahaman modern.

Tapi tidak semuanya seperti itu. Kesan kembali ke masa lampau juga misalnya seperti gedung IT&T yang mengadopsi bentuk arsitektur Romawi pada gedung tinggi. Karena itu, model apartemen bergaya Mediterania atau klasik juga sebenarnya bisa disebut Postmodern, terlepas dari apakah arsiteknya menginginkan seperti itu.

bagaimana dengan penataan interiornya?

Sama seperti desain eksterior bangunan, unsur desain dengan metode modern yang ada dalam desain interior bisa ditambahkan unsur lain yang sifatnya dekoratif, tradisional, simbolik, dan sebagainya lewat dekorasi atau penambahan unsur etnik, misalnya.

Bisa juga desain hybrid, yang menggabungkan desain dengan teknologi tinggi seperti kaca, metal, dan aksesori seperti aksen pencahayaan yang berpusat pada sebuah simbolisme, dekorasi, atau aksen agar ditangkap oleh pengguna interior desain tersebut sebagai desain 'hi-tech'. Ini juga salah satu saja dari metode postmodern.

perbedaan modern dengan post modern?

Modern itu fungsional dan cenderung datar. Postmodern itu bisa mengakomodasi, hybrid, dari berbagai elemen yang sifatnya manusiawi. Pengertian lain bisa bervariasi dari berbagai kritisi dan akademisi. Pengertian ini yang saya miliki. Ada kemungkinan tiap arsitek memiliki bahasa berbeda untuk menjelaskan modern dan postmodern.

adakah tahapan atau cara pengaplikasian post modern dalam hunian?

Ada. Jangan terlalu terpaku pada fungsi ruang atau bangunan semata, karena ini adalah prinsip modern 'less is more', makin sedikit makin banyak. Tapi gunakanlah metode desain yang mengakomodasi cara hidup orang didalamnya, misalnya. Jadi lain dengan developer perumahan yang cenderung men-sama-ratakan cara hidup banyak orang dengan membuat desain yang fungsional dan sama untuk semua orang.

Desain rumah yang memperhatikan bagaimana kebiasaan sehari-hari orang yang hidup didalamnya, misalnya. Atau kebutuhan khusus seperti keinginan untuk mengakomodasi tradisi nenek moyang dalam bentuk aksen dekorasi, atau mungkin keinginan lain yang didasarkan pada teknologi tinggi agar mengakomodasi cara hidup orang didalamnya, misalnya. Adalah contoh sederhana metode desain postmodern.

Karena itu, desain postmodern dalam lingkup sederhana ini diharapkan bisa mengakomodasi hidup penghuninya dengan lebih baik, karena tidak didasarkan pada fungsi bangunan atau ruang semata. Kadangkala kita melihat rumah yang sudah didesain sedemikian rupa, berubah karena tidak sesuai dengan keinginan pemiliknya, baik dalam eksterior maupun interiornya. Desain yang baik harus dapat mengakomodasi perubahan dan minat orang didalamnya. Konsep ini dalam metode postmodern muncul dalam 'neo-vernakular' atau 'neo-organic/wrightian' design.


-- Terimakasih pada mbak Raya dari Koran Sindo atas pertanyaan-pertanyaannya --
________________________________________________

by Probo Hindarto


ENGLISH VERSION: Interview about Postmodern Architecture in daily use in Indonesia




Some time ago, I was contacted by Mbak Raya of Koran Seputar Indonesia for an interview about postmodern architecture. Apparently, the media architecture that examines the architecture for a general audience also got interested in this term. Despite questions raised about his relationship with a known architecture community, I think of it this is the fundamental correlation of public curiosity in philosophy and architecture movement that is often still far from understanding the truth.


Harold Washington Library Ornamentation

Elements of symbolism and metaphor that is often present in the Post Modern architecture


Questions about the postmodern world is a little hard to understand. Because this concept is very deep and can be explained if one book alone. There are theorists in the academic world more than I actually know. Because of that, please comment if my opinion if there is a lack of harmony with the theory.



What is the definition of the modern post? Please explain?

To understand about postmodernism, we must understand about 'modernism', because it is essentially a postmodern critical movement against the 'modern'. Modern architecture is a type of architecture which is based on function, the lack of ornamentation, and the removal of decorative elements that are not necessary. For example: pure minimalist architecture is the kind of modern architecture developed. This architecture does not accommodate the decorative element, symbolic or traditional.


Postmodernism is a movement based on a critical view of the modern movement is no longer considered humane or can solve the problems in the modern world itself. In architecture into a new movement to provide flexibility for a variety of design factors that have never covered before in modern architecture in order to appear and accommodated.


Postmodernism is not the architectural style of the title would merely, but more than that, the movement and moral philosophy should be seen as part of the criticism of the theory of modern architecture tends to negate the elements of the human as symbolism, decoration, and the things that its non - functional. This is because modern architecture rigid and rely on perceived function can not provide solutions to the human desire for more freedom of expression.


03g Southern California CalTrans Headquarters - Broad Plaza (E)

Expression tends to excess in the construction made the decorations, which are always considered not functional and decorative are usually ignored in modern architecture.


When we pull into Indonesia, the philosophy of postmodernism would be applicable because our society is basically very fond exemption forms decorative and symbolic nature, for example: although the style of house or apartment is a modern use, but often uses ornamentation or decoration, and many its symbolic elements, such as: belief in petungan Java, or Feng Shui. Another example, although the architectural style used is 'minimalist', but actually there are many who tried to ornamentation is displayed, such as decorative trim profile. In the architectural 'modern' is pure, things such as decoration or symbolism that should not be there.


gamelan

To raise again the values of traditional architecture, can be done berkonstruksi into modern architecture to achieve the values that is understood in the modern world


The characteristics of postmodern architecture? Indicate and give an example? How to form the roof? Pillars? What was highlighted in a post modern style?


In speaking postmodern, we can superficially linked with a form of buildings such as roof forms, the use of pillars, or ornamentation. Even the forms of strange Ex Plaza also be called postmodern. But we can not see it with a superficial understanding, if you want to understand the postmodern.


Image source from left archiwork.net



True that the method of accommodation forms or the symbolism of traditional elements can be classified into the design method in postmodernism, but that does not mean all of which contain traditional roof or strange, Roman-style pillars, and the like can be directly referred to as postmodernity. Without a basic understanding of postmodernism, the work of an architect may be seen as postmodern, but actually he is part of a movement that must be scrutinized again if the method is not fundamental.


The characteristics of postmodern architecture is to accommodate the functions and forms necessary to be present in the design, for example, traditional architecture, symbolism, decoration, and so on. For example, if the architecture of a building full of lines such overlapping bird nest ... may be the architect was to accommodate the form of a bird's nest in the building. If the building design is a Roman-style columns or pillars Java style, but using modern construction, the architect may have been to accommodate the shape and ornamentation of the Roman or Javanese culture in the building.


whether there are examples of Indonesian-style buildings in the modern post? If there is give an example?


Mediterranean-style high-rise buildings, classical Roman, or Java (if any) is an example of postmodern buildings. While here, once again we can not guarantee that the architect himself understood about the concept of postmodernism.


Image source from left-www.sewa apartemen.net


benchmark or standard to make the building a modern post? What to think and do?


There is no specific standard or benchmark in the design world of postmodernism. That there is the view that in addition to the functions of the building, we are still and should accommodate a variety of other elements such as symbolism, traditions, decorations and other contexts, such as socio-cultural context. With this view, the building will be designed not rigid and can better accommodate the needs of both the human side of the wearer and the people who saw the building.


already applied in Indonesia?


It's common, but generally people do not understand the concept of Indonesia postmodernism, perhaps you see the other buildings than the other, or buildings that look like in foreign countries, or other views. Basically a lot of architects to design buildings of postmodernism, but did not know who designed or type of methods they use. But some also have to understand.


themes or designs which tend to have close to a modern post?


There is no theme or type of special design in postmodern design. What to do first is to understand the concept, and then the new themes can emerge. For example, first understand why we should use the Roman-style pillars. According to the postmodern world, the special elements such as columns or parts of other buildings that can be presented in the symbolism of the building as part of the design complements the design, whether it's with the aim to present authoritative impression, stable, or others. Many elements are added in the building design in terms of concept elements to accommodate the non-modern it was.


dominant color in the building of modern post?


Just as the theme, there is no dominant color in a postmodern building.


Is the force could be called postmodern futuristic design?


Not all buildings postmodern 'look' futuristic. It is true, because many postmodern buildings are designed in a way that is not the same as its predecessors, such as building a postmodern icon "Pompidou Center" in Paris, where all structures located outside the building and looks futuristic. Other examples like the glass pyramid works I.M. Pei on the Louvre Museum or the Guggenheim Museum by Frank Gehry in Spayol. All looked futuristic for most people who see it.


Museo Guggenheim Bilbao

Guggenheim Museum Bilbao, Spain. One icon of postmodernism is very famous.


Musée du Louvre (# 313)

Louvre Museum, Paris with a glass pyramid designed by IM Pei. How does a pyramid of glass can be present within the scope of European-style building complex, can be explained through understanding the postmodern, but not through the modern understanding.


But not all like that. Impression back to the past as well as IT & T building that adopts the form of Roman architecture in tall buildings. Therefore, the model apartment or a classic Mediterranean style could also called Postmodern, regardless of whether the architect wanted it.


what about the interior arrangement?


Just like the exterior design of buildings, design elements with modern methods in interior design can be added to other elements in nature decorative, traditional, symbolic, and so on through decoration or addition of ethnic elements, for example.


Can also design hybrid, which combines high-tech design such as glass, metal, and accessories such as accent lighting based on a symbolism, decoration, or an accent that was captured by the user such as interior design design 'hi-tech'. This is just one of the postmodern methods.


modern differences with the modern post?


The modern functional and likely flat. It can accommodate postmodern, hybrid, from the various elements of human nature. Another sense can vary from various critics and academics. This sense that I have. There is a possibility every architect has a different language to describe the modern and postmodern.


is there a stage or how the application of modern post in occupancy?


There. Do not get too fixated on the function room or building only, because this is the modern principle of 'less is more', more less. But use design methods that accommodate the way people lived in it, for example. So the other with housing developers who tend to equal-averaged way of life many people by creating a functional design and the same for all people.


Design houses to see how the daily habits of people who live in it, for example. Or special needs like the desire to accommodate the ancestral tradition in the form of decorative accent, or perhaps other desires that are based on high technology in order to accommodate the way people lived in it, for example. Is a simple example of postmodern design methods.


Therefore, postmodern design in this simple scope is expected to accommodate the residents live better, because it is not based on the function of the building or room only. Sometimes we see the house that was designed in such a way, because it does not change according to the owner desires, both in exterior and interior. A good design should be able to accommodate change and interest in it. This concept emerged in the postmodern method of 'neo-vernacular' or 'neo-organic/wrightian' design.

Yang Masih Tersisa dari Bangunan Stasiun Semut

Yang Masih Tersisa dari Bangunan Stasiun Semut

June 7th, 2003

DENGAN perasaan sangat prihatin dan hanya bisa mengelus dada menyikapi ketamakan manusia yang sudah tidak peduli lagi dengan sejarah masa lalu. Di negara mana pun tempat-tempat bersejarah selalu dipelihara dengan baik, museum menjadi tempat yang ramai dikunjungi.

SANGAT mengherankan apabila kemudian melihat cagar budaya yang usianya lebih dari 100 tahun “digerilya” untuk dijadikan tempat bisnis. Stasiun Semut pasti dikenal setiap orang yang pernah tinggal di Surabaya, sekalipun PT KAI sekarang tidak mampu lagi menghidupkan sebagai tempat bisnis kereta api.

Bahkan kesan kuno dan kusam sangat tampak pada wajah depan dari stasiun yang juga dikenal sebagai Stasiun Surabaya Kota. Berita penjarahan bagian dalam stasiun kuno ini memperlihatkan, betapa tidak pedulinya bangsa ini dengan peninggalan berharga.

Pembongkaran untuk dijadikan ruko adalah alasan yang sangat sederhana, sekadar memenuhi keinginan mendapatkan uang secara cepat. Sekalipun tidak terlihat dari wajah depannya, namun pembongkaran itu hanya menyisakan bongkahan sisa dinding batu yang belum dirobohkan, sejumlah pintu dan kusen berwarna abu-abu kusam di bagian depan dan belakang stasiun.

Pintu serta bingkai jendela di dalam gedung itu sudah raib, atap sejumlah ruangan juga tidak ada lagi. Demikian pula atap peron yang tinggal kerangka besinya. Bahkan gagang pintu sekalipun sudah menghilang. Hanya tertinggal satu buah gagang pintu di salah satu pintu belakang stasiun.

Stasiun Semut yang pernah menjadi salah satu pusat kesibukan di Kota Surabaya dan bagian sejarah panjang perjalanan sebuah Kota Surabaya kini seolah telanjang. Akan jauh lebih berharga kalau stasiun ini dijadikan museum “hidup” untuk memperlihatkan kekayaan masa lalu, sekaligus mempertahankan kereta-kereta lama yang cenderung dijual sebagai besi rongsokan.

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1992 tentang Benda cagar Budaya dan Surat Keputusan (SK) Wali Kota Nomor 188.45/251/402.1.04/1996 tidak lagi dihiraukan.

“SAYA sebenarnya sangat eman kalau stasiun ini dibongkar. Ini kan benda cagar budaya dan bangunannya juga bagus dan kuat. Seperti atap seng stasiun yang sudah diambili, saya yakin sampai dengan tiga sampai empat keturunan saya pasti masih akan bertahan,” ujar seorang pria yang bekerja sebagai staf PT Kereta Api Indonesia di tempat tersebut.

Ia mendongakkan kepala ke atas, menantang terik Matahari yang menyiram area bekas peron itu. Mungkin ia juga hanya bisa berkata dalam hati, siapa yang begitu tega melakukan semua ini?

Petugas yang telah 23 tahun bekerja di Stasiun Semut itu tampaknya hanya bisa mengeluh. Apa yang akan dia tunjukkan kepada anak cucunya sebagai bukti pengabdiannya terhadap pekerjaan yang dicintainya itu.

Pria lulusan Sekolah Teknik (sederajat SLTP) itu hanya mengetahui, rencananya pembongkaran dimulai pada 17 Maret, tetapi kemudian diundur hingga awal April. Selama dua-tiga bulan ini pembongkaran dimulai. Dimulai dari bangunan bagian belakang sehingga pekerjaan besar itu tidak terlalu terlihat.

Seng-seng diangkuti, tembok-tembok pemisah dan atap ruangan bagian dalam dihancurkan, kusen dan bingkai pintu dilepas dari dinding bangunan, atap peron pun juga diturunkan. Padahal, kalau pemerintah sekarang disuruh membangun lagi dengan kualitas yang sama rasanya kok tidak akan mampu.

Selain itu pembongkaran tersebut diikuti juga dengan penjarahan oleh sejumlah orang. Seperti dikatakan petugas PT KAI tersebut. Tanpa perlu perintah, marmer-marmer yang menghiasi separuh dinding sepanjang hampir 150 meter di bagian belakang stasiun dicungkili sehingga menampakkan plesteran semennya saja.

Kayu-kayu jati zaman Belanda yang masih sangat berharga ikut dijarah. Gagang pintu antik di pintu-pintu bagian belakang pintu itu juga tak luput jadi korban.

Penjarahan ini juga dibenarkan oleh Dilah (30), perempuan pedagang nasi di dekat lokasi tersebut. “Barang-barang kuno seperti kayu jati dan besinya laku mahal kalau dijual, mbak,” ujar perempuan yang berjualan sejak dua bulan belakangan.

Seperti halnya petugas di stasiun tersebut, ia juga menyesalkan kalau bangunan itu terpaksa dibongkar. “Yang saya tahu, ini bangunan peninggalan Belanda. Gedungnya sebenarnya bagus, tinggal diperbaiki sedikit,” ujar perempuan yang mengaku tidak pernah mengecap bangku sekolah itu.

Padahal di tengah keruntuhannya, stasiun tersebut masih menjalankan sebagian tugasnya. Dikatakan petugas pria di PT KAI itu, setiap hari sekitar 22 kereta datang dan dalam jumlah yang sama berangkat dari jalur rel di stasiun tersebut sebelum menjemput penumpang di stasiun lain.

Kereta api juga masih menurunkan penumpang di stasiun itu sehingga satu-dua orang pekerja pengangkut barang masih berkeliaran di sana.

“Memang kalau membeli karcis atau naik harus ke stasiun lain, meski masih banyak yang turun di sini sampai sekarang. Karena gelap, di waktu malam tak jarang ada penumpang jatuh atau dicopet,” ujar pria itu. Di atas rel-rel Stasiun Semut, aktivitas penyambungan gerbong di tempat itu masih berjalan.

BARANGKALI petugas di stasiun tersebut dan ibu pedagang nasi itu berbicara tentang saksi sejarah sebuah kota dalam bahasa mereka yang sederhana.

Apa yang dituturkan oleh Dukut Imam Widodo dalam bukunya Soerabaia Tempoe Doloe dapat memberikan gambaran betapa Stasiun Semut merupakan bagian tak terpisah dari denyut Kota Surabaya. Menjadi bagian kenangan ketika lokomotif hitam mendengus-dengus dan uap yang menyembur- nyembur dari cerobong menemani perjalanan warga kota saat itu.

Dukut menuliskan, berdasarkan Undang-Undang tertanggal 6 April 1875 Staatsblad No 141 Pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk membangun jaringan jalur kereta di Jawa dengan biaya dari pemerintah dan diberi nama staats spoorweg (SS).

Pada tahun 1875 dimulailah pembangunan jalur kereta api Surabaya-Pasuruan dan Surabaya-Malang. Stasiun Surabaya Kota yang terletak di kawasan bisnis penting dijadikan pedoman bagi permulaan kedua jalur tersebut.

Spoorstation Semoet atau Stasiun Semut diresmikan oleh Yang Mulia Gubernur Jenderal JW Van Lasberge tahun 1878, bertepatan dengan dibukanya jalur Surabaya-Pasuruan.

Saat itu jalur Surabaya-Pasuruan dianggap sangat penting lantaran di Umbulan terdapat sumber air yang sangat besar. Pasokan air dari Umbulan ke Surabaya itu diangkut menggunakan kereta api.

Pada masa itu Stasiun Semut merupakan salah satu dari dua stasiun yang terkenal di Kota Surabaya tempo dulu. Lainnya adalah stasiun Pasar Turi.

Stasiun ini merupakan bagian dari jalur selatan yang melayani rute Surabaya-Solo-Yogyakarta, Tasikmalaya, Bandung, dan Jakarta.

Ketika itu jalur Jakarta-Surabaya masih ditempuh dengan perjalanan selama tiga hari. Begitu malam tiba, kereta berhenti dan penumpang menginap di hotel-hotel untuk melanjutkan perjalanannya keesokan harinya. Entah sudah berapa orang yang datang dan pergi dari stasiun tersebut.

Sebenarnya, dituliskan Dukut, Kota Surabaya pada zaman itu dapat disebut sebagai Kota Sepur lantaran memiliki empat stasiun yang besar, yakni Wonokromo, Gubeng, Pasar Turi, dan Semut yang kini semakin tidak jelas nasibnya. Ia menyayangkan Kota Surabaya tidak memiliki Museum Kereta Api. Bahkan, bangunan bersejarah Stasiun Semut kini terancam roboh.

SUGENG Gunadi, anggota Lembaga Pelestarian Arsitektur Surabaya (LePAS?) sekaligus anggota Tim Pertimbangan Pelestarian Cagar Budaya Pemerintah Kota Surabaya, mengatakan, menghancurkan bangunan-bangunan cagar budaya tersebut berarti juga menghancurkan identitas sebuah kota.

“Bahkan, kota-kota besar di Jerman dan Roma yang moderen dalam pembangunannya tidak lantas menggilas bangunan kuno yang mereka miliki. Sehingga jika berkunjung tetap dapat menikmati puing-puing sisa peninggalan Kerajaan Romawi di sana yang hanya berupa pilar-pilar atau serakan puing-puing yang dirawat dengan baik. Demikian juga Malaysia yang merawat bangunan peninggalan masa koloni Inggris di sana dengan sangat baik,” paparnya.

Selain itu, bangunan bersejarah mengandung unsur pendidikan. Ia dapat menjadi laboratorium hidup bagi generasi selanjutnya dalam mempelajari berbagai hal, mulai dari fisik bangunan hingga nilai sejarahnya. Ujungnya, pemeliharaan terhadap bangunan tersebut akan menguntungkan dari segi pariwisata.

Ketua Jurusan Arsitektur Universitas Kristen Petra Timoticin Kwanda menambahkan, pengalihfungsian menjadi rumah toko dapat dilakukan melalui adaptasi dengan bangunan lama.

Untuk kasus stasiun kota misalnya, dapat dilakukan adaptasi. Tampak depan atau wajah bangunan tidak diubah, namun bagian dalam dapat disesuaikan dengan kebutuhan. Penambahan bangunan dapat dilakukan dengan menyesuaikan desain dengan bangunan lama. Hotel Ibis misalnya, dapat menjadi contoh yang baik di Surabaya.

Dalam upaya pembangunan yang ramah terhadap bangunan cagar budaya, dikatakan Timoticin, Surabaya masih tertinggal dibandingkan dengan Jakarta yang juga kaya akan bangunan cagar budaya.

Sebagai contoh adalah adaptasi bangunan cagar budaya galangan kapal Verenigde Oost-Indische Compagnie (VOC) di Jalan Kakap, Jakarta Utara, menjadi sebuah restoran mewah yang kini ramai dikunjungi.

“Kondisi Galangan VOC saat itu jauh lebih parah daripada Stasiun Semut. Tetapi dengan komitmen dari pengusahanya, itu dapat diwujudkan,” katanya. Bahkan, kini restoran tersebut mempunyai kelasnya tersendiri yang tidak mungkin disaingi oleh restoran mana pun, seperti juga sejarah yang terkandung didalamnya tidak dapat dibeli dengan uang berapa pun.

Untuk sementara, PT KAI memutuskan untuk menunda pembongkaran gudang. Namun, itu belum berarti akan menyelamatkan situs bersejarah tersebut. Butuh beban moral untuk mempertahankan bangunan yang pernah menjadi bagian dari geliat Kota Surabaya tersebut.(Indira Permanasari)

Sumber: Harian Kompas, Sabtu 07 Juni 2003

Concept of Beauty in Contemporary Architecture

Concept of Beauty in Contemporary Architecture

Sustainability Changes Understanding of Form & Function in Buildings

CMHC EquilibriumTM Demonstration House Edmonton - Canadian Mortgage and Housing Corporation
CMHC EquilibriumTM Demonstration House Edmonton - Canadian Mortgage and Housing Corporation
Green building concerns like energy efficiency and built-in flexibility are changing the traditional understanding and physical expression of architecture's goals.

Once upon a time, the most important attributes of a building were its aesthetic qualities, structural integrity and fitness for its intended purpose. Sustainability objectives subtly alter this triumvirate by paying more attention to the building’s “soundness” from an environmental perspective.

A building’s fitness or functionality is related to how well it accommodates the building program, or the functions to be conducted in the structure. Aesthetically pleasing design has sought to realize architecture, and by extension form, that was beautiful according to the tastes of the day. Soundness has usually been equated with structural integrity: Will the building stand up to the elements over time?

Aesthetics has often trumped fitness in architecture. Classicism was preoccupied with the articulation of architectural orders on the building façade. Modernism has been equally guilty of formal concerns, as any number of iconic glass and steel structures attest. The concept of form follows function, articulated by architects like Louis Kahn, developed in reaction to Modernism’s excesses.

Kahn’s best work ironically represents an effortless-looking marriage between function and form. The first-time viewer can hardly discern which came first: the goal of making a beautiful building or meeting the requirements of the building program. The Capital Complex in Dhaka and Kimbell Museum in Fort Worth both reveal a contemporary aesthetic in concrete with ancient formal references.

Careful detailing of the structure and a thorough grasp of building science principles are required to render a building sound. Mies van der Rohe is often credited with the dictum, “God is in the details,” a reminder that buildings only endure if properly designed, detailed and constructed.

Sustainable Considerations in Buildings

Soundness has acquired new meaning with the advent of sustainable design. Environmental considerations can shape buildings physically in several ways.

Designers of sustainable structures may incorporate solar panels to harvest energy passively. A residence clad in solar panels inevitably has a different aesthetic than a conventional suburban house. Multi-unit residential buildings that eliminate thermal bridges caused by extensive use of glazing and concrete decks do not resemble conventional glass-panelled high-rise towers.

Passive solar strategies often borrow design elements from local vernacular architecture to address harsh regional climatic conditions. In the southern US, louvers and sunshades, together with light-coloured building materials for cladding and roofing purposes, reduce heat gain. Thermal mass provided by insulated walls can reduce heat gain and heat loss, enhancing thermal comfort in all climate zones.

Sustainable design ensures that every occupant has access to views out, natural light and where possible, natural ventilation. This strategy has an effect on building floor plates, sometimes resulting in narrower floor plans or highly articulated ones that expose interior zones to two or more exposures.

Designers of green buildings are less concerned with producing iconic architecture than structures that reduce fossil fuel consumption. The design’s adaptability to changing programmatic and cultural conditions is another important factor in environmentally-conscious design.

Changing Aesthetic

The idea of beauty in architecture is gradually changing as more sustainable building occurs. Selecting local building materials in order to reduce transportation distances, and providing greater opacity in cladding materials to enhance energy performance are just two examples of design criteria that are changing how buildings look.

The designer’s challenge is to produce an ecologically sound edifice without compromising contemporary ideas of beauty. There are enough good examples of sustainable design that is sound, fit for its purpose and a delight to behold to encourage even the harshest critic of contemporary architecture.

Sejarah Arsitektur Kontemporer Indonesia

Sejarah Arsitektur Kontemporer Indonesia

1) PENDAHULUAN

Sebelum masa kemerdekaan dunia arsitektur di Indonesia didominasi oleh karya arsitek Belanda. Masa kolonial tersebut telah mengisi gambaran baru pada peta arsitektur Indonesia. Kesan tradisional dan vernakuler serta ragam etnik di Negeri ini diusik oleh kehadiran pendatang yang membawa arsitektur arsitektur di Indonesia

Bentuk arsitektur di Indonesia “asli” kemudian dimulai dari sebuah institusi arsitektur di era setelah kemerdekaan. Selama periode tersebut sampai sekarang arsitektur berkembang melalui proses akademik dan praktek arsitektur pada sebuah arsitektur kontemporer Indonesia.

Di masa penjajahan Belanda sebenarnya mata kuliah arsitektur diajarkan sebagai bagian dari pendidikan insinyur sipil. Namun, setelah Oktober 1950, sekolah arsitektur yang pertama didirikan di Institut Teknologi Bandung yang dulu bernama Bandoeng Technische Hoogeschool (1923). Disiplin ilmu arsitektur ini diawali dengan 20 mahasiswa dengan 3 pengajar berkebangsaan Belanda, yang pada dasarnya pengajar tersebut meniru system pendidikan dari tempat asalnya di Universitas Teknologi Delft di Belanda. Pendidikan arsitektur mengarah pada penguasaan keahlian merancang bangunan, dengan fikus pada parameter yang terbatas, yaitu fungsi, iklim, konstruksi, dan bahan bangunan.

Semenjak konflik di Irian Barat pada tahun 1955 semua pengajar dari Belanda dipulangkan ke negaranya, kecuali V.R. van Romondt yang secara rendah hati bersikeras untuk tinggal dan memimpin sekolah arsitektur sampai tahun 1962. Selama kepemimpinannya, pendidikan arsitektur secata bertahan memperkaya dengan memberikan aspek estetika, barat ke tanah Indonesia. Sekitar awal 1910-an beberapa karya arsitek Belanda seperti Stasiun Jakarta Kota, Hotel Savoy Homan dan Villa Isola di bandung sudah memberikan pemandangan barubudaya dan sejarah ke dalam sebuah pertimbangan desain. Van Romondt berambisi menciptakan “Arsitektur Indonesia” baru, yang berakar pada prinsip tradisional dengan sentuhan modern untuk memenuhi kebutuhan masyarakat kontemporer. Dengan kata lain “Arsitektur Indonesia” adalah penerapan gagasan fungsionalisme, rasionalisme, dan kesederhanaan dari desain modern, namun sangat terinspirasi oleh prinsip-prinsip arsitektur tradisional.

2) KEMAJUAN, MODERNITAS, DAN MONUMENTALITASmonassukarno.jpg

Pada tahun 1958, mahasiswa arsitektur ITB sudah mencapai 500 orang, dengan 12 orang lulusan. Yang kemudian beberapanya menjadi pengajar. Pada bulan September 1959, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) didirikan. Sejak tahun 1961, kepemimpinan sekolah arsitektur berpindah tangan pada bangsa Indonesia dengan Sujudi sebagai ketuanya. Kemudian Sujudi mendirikan sekolah arsitektur di perguruan tinggi lainnya. Masa ini juga juga dipelopori oleh Sujudi cs. bersama teman-temannya yang menamakan diri ATAP.

Awal tahun 1960-an, literature barat mulai masuk dalam diskursus pendidikan arsitektur di Indonesia. Karya dan pemikiran para arsitek terkemukan seperti Walter Gropius, Frank Lloyd Wright, dan Le Corbusier menjadi referensi normative dalam diskusi dan pelajaran.

Iklim politik pada saat itu juga sangat berpengaruh terhadap pola fikir masyarakat terhadap teori dan konsep arsitektur modern. Karena di masa kepemimpinan Sukarno, “modernitas” diberikan olah kepentingan simbolis yang merujuk pada persatuan dan kekuatan nasional. Sukarno telah berhasil mempengaruhi secara mendasar karakter arsitektur yang diproduksi pada masa iai memegang kekuasaan. Modern, revolusioner, dan heroik dalam arsitektur membawa kita pada program pembangunan besar-besaran terutama untuk ibukota Jakarta. Ia berusaha mengubah citra Jakarta sebagai pusat pemerintahan kolonial menjadi ibukota Negara yang merdeka dan berdaulat yang lahir sebagai kekuatan baru di dunia.

Pada akhir 1950-an Sukarno mulai membongkar bangunan-bangunan lama dan memdirikan bangunan baru, pelebaran jalan, dan pembangunan jalan bebas hambatan. Gedung pencakar langit dan teknologi bangunan modern mulai diperkenalkan di negeri ini. Dengan bantuan dana luar negeri proyek-proyek seperti Hotel Indonesia, Pertokoan Sarinah, Gelora Bung Karno, By pass, Jembatan Semanggi, Monas, Mesjid Istiqlal, Wisma Nusantara, Taman Impian Jaya Ancol, Gedung DPR&MPR dan sejumlah patung monumen.

Ciri khas proyek arsitektur Sukarno adalah kemajuan, modernitas, dan monumentalitas yang sebagian besar menggunakan langgam “International Style”. Seorang arsitek yang memiliki hubungan dekat dengan Presiden Sukarno pada masa itu adalah Friedrich Silaban. Ia terlibat hampir semua proyek besari pada masa itu. Desainnya didasari oleh prinsip fungsional, kenyamanan, efisiensi, dan kesederhanaan. Pendapatnya bahwa arsitek harus memperhatikan kebutuhan fungsional suatu bangunan dan factor iklim tropis seperti temperatur, kelembaban, sirkulasi udara, dan radiasi matahari. Desainnya terekspresikan dalam solusi arsitektur seperti ventilasi silang, teritisan atap lebar, dan selasar-selasar.

3) KESATUAN DAN KERAGAMAN BUDAYA

Sejak kejatuhan Sukarno pada tahun 1965, pemerintahan Orde Baru di bawah kepemimpinan Suharto menyalurkan investasi asing ke Jakarta dan telah melaksanakan rencana modernisasi dengan tujuan pembangunan ekonomi di Indonesia. Proyek yang ditinggalkan Sukarno kemudian diselesaikan oleh Gubernur DKI Jakarta pada saat itu Ali Sadikin.

Ali Sadikin juga bermaksud menjadikan Jakarta sebagai tujuan wisata bagi wisatawan dari Timur dan Barat. Sehingga pada tahun 1975, dikembangkan suatu program konservasi bagian Kota Tuan di Jakarta dan beberapa situs-situ sejarah lainnya. Program ini sedikit demi sedikit mengubah sikap masyarakat terhadap warisan arsitektur kolonial.

Sejak awal 1970-an, kondisi ekonomi di Indonesia semakin membaik, yang berdampak pada kebutuhan akan jasa perencanaan dan perancangan arsitektur berkembang pesat. Maka munculla biro-biro arsitektur yang menangani proyek badan pemerintahan, BUMN, dan para “orang kaya baru”. Sayangnya para arsitek professional di Indonesia tidak siap menerima tantangan besar tersebut. Yang tidak memiliki pilihan doktrin fungsional dari arsitektur modern membelenggu pengembangan karakter unik dalam arsitektur kontemporer pada masanya. Sementara itu kalangan elit dan golongan menengah keatas mengekspresikan kekayaan dan status sosialnya melalui desain yang monumental dan eklektik dengan meminjam ornamen arsitektur Yunani, Romawi, dan Spanyol.

Kekecewaan terhadap kecenderungan meniru dan eklektik ini membawa arsitek Indonesia pada suatu gagasan untuk mengembangkan karakter arsitektur Indonesia yang khas. Suharto memegang peran utama untuk membangkitkan kembali kerinduan pada kehidupan pedesaan Indonesia, melalui tema-tema arsitektur etnik. Jenis arsitektur ini kemudian dipahami sebagai langgam resmi yang dianjurkan. Ditandai juga dengan pembangunan Taman Mini Indonesia Indah (TMII).

Para arsitek muda sebagian besar juga kecewa terhadap tendensi eklektis dari arsitektur modern di dalam negeri. Yang kemudian semakin menyoroti secara simpatik pada arsitektur tradisional. Mereka menyoroti perbedaan kontras antara arsitektur modern dengan arsitektur tradisional sedemikian rupa sehingga arsitektur tradisional diasosiasikan dengan “nasional”, dan arsitektur modern dengan “asing” dan “barat”.

4) MENCARI IDENTITAS ARSITEKTUR INDONESIArektorat ui.jpg

Pada pertengahan tahun 1970-an, masalah langgam dan identitas arsitektur nasional menjadi isu utama bagi arsitek Indonesia. Terhadap masalah langgam dan identitas arsitektur nasional pandangan arsitek Indonesia menjadi tiga kelompok yang berbeda. Kelompok pertama berpendapat bahwa arsitektur Indonesia sebenarnya sudah ada, terdiri atas berbagai jenis arsitektur tradisional dari berbagai daerah. Implikasinya adalah penerapan elemen arsitektur tradisional yang khas, seperti atap dan ornamen. Kelompok arsitek kedua bersikap skeptis terhadap segala kemungkinan untuk mencapai langgam dan identitas arsitektur nasional yang ideal. Kelompok ketiga adalah sebagian akademisi arsitektur yang secara konsisten mengikuti langkah “bapak” mereka, V.R. van Romondt. Mereka berpendapat bahwa arsitektur Indonesia masih dalam proses pembentukan, dan hasilnya bergantung pada komitmen dan penilaian kritis terhadap cita-cita budaya, selera estetis, dan perangkat teknologi yang melahirkan model dan bentuk bangunan tradisional pada masa tertentu dalam sejarah. Mereka yakin bahwa pemahaman yang lebih mendalam terhadap prinsip tersebut dapat memberikan pencerahan atau inspirasi bagi arsitek kontemporer untuk menghadapi pengaruh budaya asing dalam konteks mereka sendiri.

Dalam periode 1980-1996 institusi keprofesian dan pendidikan arsitektur mengalami perkembangan pesat, Pertumbuhan sector swasta yang subur serta investasi dengan korporasi arsitektur asing mulai mengambil alih segmen pasar kelas atas di ibukota dan daerah tujuan wisata seperti Pulau Bali. Dapat dikatakan bahwa arsitektur kontemporer di Indonesia tidak menunjukkan deviasi yang radikal terhadap perkembangan arsitektur modern di dunia pada umumnya.

Sebenarnya pada pertengahan 1970-an telah ada usaha untuk menciptakan suatu langgam khusus, suatu bentuk identitas “Indonesia”, tetapi hanya terbatas pada proyek arsitektur yang prestisius seperti bandara udara internasional hotel, kampus, dan gedung perkantoran. Sangat jelas bahwa proyek penciptaan langgam dan identitas arsitektur Indonesia termotivasi secara politis.

5) ARSITEKTUR KONTEMPORER INDONESIAgedung28.jpg

Awal tahun 1990-an ditandai pengaruh postmodernisme pada bangunan umum dan komersil di Jakarta dan kota besar lainnya. Hadirnya kontribusi signifikan dari para arsitek muda yang berusaha menghasilkan desain yang khas dan inovatif untuk memperkaya khasanah arsitektur kontemporer di Indonesia. Di antaranya adalah mereka yang terhimpun dalam kelompok yang sering dianggap elitis, yaitu Arsitek Muda Indonesia (AMI). Dengan motto “semangat, kritis, dan keterbukaan” kiprah AMI juga didukung oleh kelompok muda arsitek lainnya seperti di Medan, SAMM di Malang, De Maya di Surabaya dan BoomArs di Manado. Untuk menciptakan iklim yang kondusif bagi usaha kreatif di kalangan arsitek praktisi, Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) juga mulai memberikan penghargaan desain (design award) untuk berbagai kategori tipe bangunan. Karya-karya arsitektur yang memperoleh penghargaan dimaksudkan sebagai tolok ukur bagi pencapaian desain yang baik dan sebagai pengarah arus bagi apresiasi arsitektural yang lebih tinggi.

Penghargaan Aga Khan Award dalam arsitektur yang diterima Y.B. Mangunwijaya pada tahun 1992 untuk proyek Kali Code, telah berhasil memotivasi arsitek-arsitek Indonesia untuk melatih kepekaan tehadap tanggung jawab sosial budaya.

Krisis moneter tahun 1997 mengakibatkan jatuhnya pemerintahan Orde Baru telah melumpuhkan sector property dan jasa professional di bidang arsitektur. Diperlukan hampir lima tahun untuk kembali, namun kerusakan yang sedemikian parah mengakibatkan kemunduran pada semua program pembangunan nasional.

Kini, arsitek kontemporer Indonesia dihadapkan pada situasi paradoksikal: Bagaimana melakukan modernisasi sambil tetap memelihara inti dari identitas budaya? Karya-karya kreatif dan kontemporer kini menjadi tonggak baru dalam perkembangan arsitektur Indonesia. Dengan pemikiran dan isu baru yang menjadi tantangan arsitek muda. Seiring pergerakan AMI memberikan semangat modernisme baru yang lebih sensitif terhadap isu lokalitas dan perubahan paradigma arsitektur di Indonesia.

6) EKOLOGI, FLEKSIBILITAS, DAN TEKNOLOGImumbaitower1.jpg

Dunia arsitektur dewasa ini juga kini dihadapkan pada suatu isu baru. Krisis energi karena sumber daya alam yang dieksploitasi sejak era industrialisasi dunia kini terasa gejalanya. Perubahan iklim, pemanasan global, dan bencana lainnya menjadi dampak dari krisis energi dan perusakan lingkungan. Jelas sekali dunia konstruksi menjadi salah satu penyebabnya. Sepertinya pernyataan tentang isu berkelanjutan melalui konferensi internasional yang menghasilkan pernyataan:

“… Sustainable development is development that meets the needs of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs…”(Bruntdland report, 1987)

Kini menjadi keharusan karena tekanan keadaan.

Fenomena ini yang kemudian memberikan pelajaran bagi arsitektur kontemporer Indonesia. Dimana modernitas, lokalitas dan faktor ekologis kita yang memiliki iklim tropis harus dikedepankan. Pencarian beralih menuju arsitektur modern tropis. Beberapa arsitek muda kini juga berlomba-lomba untuk menyelamatkan keberadaan bumi ini. Seperti Adi Purnomo yang banyak menghasilkan karya rumah tinggal yang kaya akan area hijau, Jimmy Priatman yang berhasil membuat bangunan hemat energi dan masuk nominasi Aga Khan Award, dan tokoh arsitek muda lainnya.

Isu lainnya yang menjadi berkembang adalah ketersediaan lahan. Kurang berhasilnya penerapan otonomi daerah pemerintahan reformasi kita ini tetap menjadikan kota sebagai pusat perekonomian nasional. Akibatnya lahan di perkotaan semakin menipis. Membuat karya arsitektur selain ramah lingkungan kini dihadapkan pada suatu kenyataan penyempitan ruang binaan. Bangunan yang efisien dengan keadaan dan “compact” dengan segala bentuk keadaan mulai ditinjau dalam penerapan arsitektur kontemporer.

Tantangan ini yang kemudian menjadi “pekerjaan rumah” (PR) para arsitek muda kita sekarang dan untuk masa akan datang. Menjaga unsur lokalitas dan arus globalitas, antara tradisi dan isu terkini harus segera dijawab dengan sebuah karya yang nyata dan berkesinambungan.
acuan pustaka
Bahan Perkuliahan Magister Arsitektur. Advance Visual Design. Dosen Prof. Drs. Yusuf Affendi, M.A.
Capon, David. Categories in Architectural Theory and Design, Design Studies. Hal. 215-226.
Antoniades, Anthony. Phoetic of Architecture.
Kusno, Abidin. Behind the Postcolonial: Architecture, Urban Space and Political Cultures in Indonesia, London: Routledge 2000.
Nanda, Widyarta. Mencari Arsitektur Sebuah Bangsa. Wastu Lanas Grafika 2007.
Budihardjo, Eko. Arsitek dan Arsitektur Indonesia. Andi Yogyakarta 1997.
Budihardjo, Eko. Jati Diri Arsitektur Indonesia. Alumni Bandung 1997.
Ikhwanuddin. Menggali Pemikiran Postmodernisme Dalam Arsitektur. Gadjah Mada University Press 2005.
Frick, Heinz. Dasar-dasar Eko-arsitektur. Penerbit Kanisius 1997.
Akmal, Imelda. Indonesian Architecture Now. Borneo 2005.
Tardiyana, Ahmad. Antar, Yori. The Long Towards Recognation. Gramedia 2002.
Majalah iDEA Edisi 48/IV/2008. Gramedia Majalah.